Sabtu, 29 Mei 2010

Pneumonia

PENDAHULUAN

Pada masa yang lalu pneumonia diklasifikasikan sebagai pneumonia tipikal yang disebabkan oleh Str. Pneumoniae dan atipikal yang disebabkan kuman atipik seperti halnya M. pneumoniae. Kemudian ternyata manifestasi dari patogen lain seperti H. Influanzae, S. Aureus dan bakteri gram negatif memberikan sindrom klinik yang identik dengan pneumonia oleh Str. Pneumoniae, dan bakteri lain dan virus dapat menimbulkan gambaran yang sama dengan pneumonia oleh M. Pneumoniae. Sebaliknya Legionella spp. Dan virus dapat memberikan gambaran pneumonia yang bervariasi luas.
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya tinggi, tidak saja dinegara berkembang, tapi juga di negara maju seperti AS, Kanada dan negara-negara Eropa. Di AS misalnya, terdapat dua juta sampai tiga juta kasus pneumonia per tahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000 orang.(2,6)
Pada perkembangannya pengelolaan pneumonia telah dikelompokkan menjadi dua kelompok utama yaitu pneumonia yang didapat di ruang perawatan atau Hospital Acquired Pneumonia (HAP) dan pneumonia komunitas atau Community Acquired Pneumonia (CAP). Pneumonia yang didapat di rumah sakit cenderung bersifat lebih serius karena pada saat menjalani perawatan di rumah sakit, sistem pertahanan tubuh penderita untuk melawan infeksi seringkali terganggu. Selain itu, kemungkinannya terjadinya infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik adalah lebih besar. Disamping kedua bentuk utama, terdapat pula pneumonia bentuk khusus yang masih sering dijumpai. (2,3 )


DEFINISI
Pnemonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat yang disebabkan oleh bermacam – macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing (1, 2, 7)
Anak dengan daya tahan tubuh terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak mampu mengatasi penyaikit ini dengan sempurna. Factor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia ialah daya tahan tubuh yang menurun, misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit menahun, factor iatrogen seperti trauma pada paru, anastesia, aspirasi, pengobatan dengan antibiotika yang tidak sempurna. (1).
Pneumonia pada bayi baru lahir berawal dari pecahnya ketuban sebelum waktunya yang menyebabkan infeksi pada cairan ketuban. Janin terendam dalam cairan ketuban yang terinfeksi dan menghirupnya sehingga masuk ke dalam paru-paru.(4)

KLASIFIKASI
Pembagian pneumonia didasarkan atas dasar anatomis dan etiologis. Pembagian anatomis : (1) pneumonia lobaris, (2) pneumonia lobularis dan (3) pneumonia bronkiolitis. Sedangkan pembagian etiologis : (1) bakteri, (2) virus (3) Mycoplasma pneumoniae, (4) Jamur, (5) Aspirasi, (6) pneumonia hipostatik, (7) sidrom Loeffler
Secara klinis biasa, berbagai etiologi ini sukar dibedakan. Untuk pengobatan tepat, pengetahuan tentang penyebab pneumonia perlu sekali, sehingga pembagian etiologis lebih rasional daripada pembagian anatomis.( 1, 3, 6)
Pneumonia Oleh Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Pencandu alkohol, pasien pasca-operasi, orang-orang dengan penyakit gangguan pernapasan, sedang terinfeksi virus atau menurun kekebalan tubuhnya, adalah yang paling berisiko. Bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah pneumococcus, dimana pneumococcus dengan serotipe 1 sampai 8 menyebabkan pneumonia pada orang dewasa lebih 80 %, sedangkan pada anak ditemukan tipe 14, 1, 6, dan 9.(1, 3, 7)
Angka kejadian tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 4 tahun dan mengurang dengan meningkatnya umur. Pneumonia lobaris ditemukan pada orang dewasa dan anak besar, sedangkan pada anak kecil dan bayi sering ditemukan bronchopneumonia.(1)
Pneumococcus masuk kedalam paru melalui jalan pernapasan dengan cara droplet. Proses radang dapat dibagi menjadi 4 stadium yaitu :
1. stadium kongesti, kapiler melebar dan kongesti serta didalam alveolus terdapat eksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, dan beberapa neutrofil dan makrofag
2. stadium hepatisasi merah, lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak mengandung udara, warna menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. Dalam alveolus didapatkan fibrin, leukosit, neutrofil, eksudat dan banyak sekali eritrosit dan kuman. Stadium ini berlangsung sangat cepat
3. stadium hepatisasi kelabu, lobus masih tetap padat dan warna merah menjadi pucat kelabu. Permukaan pleura menjadi suram karena diliputu fibrin. Alveolus terisi fibrin dan leukosit, tempat terjadi fagositosis pneumococcus. Kapiler tidak lagi kongestif.
4. stadium resolusi, eksudat berkurang. Dalam alveolus makrofag bertambah dan leukosit mengalami nekrosis dan degenerasi lemak. Fibrin diresorbsi dan menghilang.
Pada umumnya gejala klinis dari pneumococcus didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat cepat sampai 39 – 40 oC, pada anak besar dapat disertai dengan menggigil dan pada anak kecil dan bayi biasanya disertai dengan kejang. Nafas menjadi sangat sesak, disertai pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut, nyeri pada dada, pada anak kecil dan bayi kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit, mungkin terdapat batuk setelah beberapa hari, mula-mula kering kemudian menjadi produktif. Pada pemeriksaan fisis, gejala khas nampak setelah 1 – 2 hari. Pada permulaan suara pernapasan melemah, sedangkan pada perkusi tidak ada kelainan. Setelah terjadi kongesti, ronki basah dan nyaring akan terdengar yang segera menghilang setelah terjadi konsolidasi. Kemudian pada perkusi jelas terdengar keredupan dengan suara pernapasan sub-bronkial sampai bronkial . pada stadium resolusi ronki terdengar lebih jelas. Pada inspeksi dan palpasi tampak pergeseran toraks yang terkena berkurang. Tanpa pengobatan bisa terjadi penyembuhan 5 – 9 hari pada anak besar dan sesuadah 2 – 3 minggu pada bayi dan anak kecil.(1, 6 )

Pneumonia Oleh Virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas terutama pada anak-anak gangguan ini bisa memicu pneumonia. Untunglah, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influensa, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian, Virus yang menginfeksi paru akan berkembang biak walau tidak terlihat jaringan paru yang dipenuhi cairan.
Gejala Pneumonia oleh virus sama saja dengan influensa, yaitu demam, batuk kering sakit kepala, ngilu diseluruh tubuh. Dan letih lesu, selama 12 - 136 jam, napas menjadi sesak, batuk makin hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Demam tinggi kadang membuat bibir menjadi biru.(1, 6)

Pneumonia Mikoplasma.
Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda-tanda fisiknya bila dibandingkan dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu, pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia yang tidak tipikal (Atypical Penumonia ). Pneumonia mikoplasma mulai diidentifikasi dalam perang dunia II. Mikoplasma adalah agen terkecil dialam bebas yang menyebabkan penyakit pada manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati. Gejala yang paling sering adalah batuk berat, namun dengan sedikit lendir. Demam dan menggigil hanya muncul di awal, dan pada beberapa pasien bisa mual dan muntah. Rasa lemah baru hilang dalam waktu lama.(6)



Pneumonia aspirasi
Aspirasi ini dapat terjadi karena terrminum minyak tanah atau bensin. Ada 2 pendapat tentang patogenesisnya, yaitu (1) kerosen dapat mencapai paru setelah diabsorbsi di traktus digestivus, (2) aspirasi terjadi pada waktu menelan kerosen, muntah atau saat membilas lambung. Suhu dapat meninggi dan kesadaran menurun. Pengobatan simptomatik dan antibiotika diberikan sebagai profilaksis. Pada umumnya bilasan lambung tidak dikerjakan untuk menghindarkan kemungkinan aspirasi saat pembilasan. Dalam keadaan berat anak perlu di rawat. Dalam keadaan ringan dapat dipulankan dengan penyuntikan penisilin setiap hari di poliklinik dan dilakukan pula pemeriksaan ulangan foto rontgen toraks.(1)

Sindrom loeffler
Foto toraks sindrom ini biasanya menunjukkan gambaran infiltrat besar dan kecil yang tersebar, ada yang menyerupai tuberkulosis miliaris. Batasnya kadang-kadang tidak tegas. Infiltrat ini dapat berpindah-pindah dari lobus yang satu ke lobus yang lain atau dari satu paru ke paru sisi lain. Infiltrat ini merupakan infiltrat eosinofil oleh karena terdapat banyak sel eosinofil. Pada umumnya infiltrat ini dianggap sebagai reaksi alergi terhadap protein asing yang didaerah tropis dihubungkan dengan migrasi larva cacing ascaris lumbricoides atau lainnya, dari usus masuk kedalam peredaran darah dan ke paru. Darah menunjukkan eosinofilia sampai 40 -70 %. Penyakit ini biasanya tidak berat dan sembuh setelah beberapa hari sampai beberapa bulan. Pengobatannya terdiri dari antibiotika utnuk mencegah infeksi sekunder dan antemintika.(1)


Pneumonia hipostatika
Terjadi karena kongesti paru yang lama, misalnya pada penderita penyakit menahun yang berbaring lama. Kongesti paru bagian belakang bawah mengakibatkan mudahnya kuman yang biasanya terdapat secara komensial berkembang biak dan kemudian menyebabkan radang. Pencegahannya ialah dengan mengubah-ubah posisi baring.(1)

Pneumonia Jenis Lain
Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pnumonia ( PCP ) yang diduga disebabkan oleh jamur, PCP biasanya menjadi tanda awal serangan penyakit pada pengidap HIV/AIDS. PCP bisa diobati pada banyak kasus. Bisa saja penyakit ini muncul lagi beberapa bulan kemudian, namun pengobatan yang baik akan mencegah atau menundah kekambuhan. Rickettsia- juga masuk golongan antara virus dan bakteri-menyebabkan demam Rocky Mountain, demam Q, tipus, dan psittacosis. Penyakit-penyakit ini juga mengganggu fungsi Paru, namun pneumonia tuberkulosis alias TBC adalah infeksi paru paling berbahaya kecuali diobati sejak dini.(6)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Adapun Pemeriksaan penunjang yang penting untuk mendiagnosa pneumonia ini adalah :
1. Pemeriksaan Rontgen Dada, pemeriksaan ini dapat menunjukan kelainan sebelum hal ini dapat ditemukan secara pemeriksaan fisis.pada bronchopneumonia bercak-bercak infiltrat didapatkan pada satu atau beberapa lobus. Pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus. Foto rontgen dapat juga menunjukan adanya komplikasi seperti leuritis, atelektasis, abses paru, pneumatokel, pneumotoraks, pneumomediastinum atau perikarditis.
2. Pemeriksaan laboratorium, gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000 – 40.000/mm3 dengan pergeseran ke kiri. Kuman penyebab dapat dibiakkan dari usapan tenggorokan dan 30% dari darah. Urin biasanya berwarna lebih tua, mungkin terdapat albuminuria ringan karena suhu yang naik dan sedikit torak hialin(1, 2, 3, 5)

KOMPLIKASI
Dengan penggunaan antibiotika, komplikasi dari pneumonia pneumococcus hampir tidak dapat dijumpai. Komplikasi yang dapat dijumpai ialah : empiema, otitis media akut. Komplikasi lain seperti meningitis, perikarditis, osteomielitis, peritontis lebih jarang dilihat.
Pada pneumonia stafilococcus komplikasi yang sering terjadi adalah abses paru, pneumatokel, ”tension pneumothorax” atau empiema.
Pneumonia streptococcus sering merupakan komplikasi dari penyakit virus seperti influenza, campak, cacar air dan infeksi bakteri lain seperti pertusis dan pneumonia pneumococcus.
Pneumonia bakteri gram negatif yang biasanya disebabkan oleh Hemphilus influenzae sering menimbulkan komplikasi seperti bakteremia, empiema, perikarditis, selulitis dan meningitis(1)




PROGNOSIS
Denagn pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1 %. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datangterlambat menunjukkan mortalitas yang tinggi. (1)

PENGOBATAN DAN PENATALAKSANAAN
Sebaiknya pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi, tetapi berhubung hal ini tidak selalu dapat dikerjakan dan makan waktu lama maka dalam praktekdiberikan pengobatan polifragmasi. Penisillin diberikan 50.000 U/kgbb/hari dan ditambah dengan kloramfenikol 50 – 75 mg/kgbb/hari atau diberikan antibiotika yang mempunyai spektrum luas seperti ampicillin. Pengobatan diberikan sampai anak bebas demam selama 4 – 5 hari. Anak yang sangat sesak napasnya memerlukan pemberian cairan intravena dan oksigen. Jenis cairan yang digunakan ialah campuran glukosa 5 % dan NaCl 0,9 % dalam perbandingan 3 : 1 ditambah larutan KCl 10 mEq/500 ml botol infus.
Pada pneumonia stafilococcus, khususnya untuk infeksi stafilococcus yang membuat penisilinase, dapat diberikan kloksasilin atau linkomisin dan pengobatannya diteruskan sampai ada perbaikan klinis dan biasanya rata-rata 3 minggu
Pada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri gram negatif, obat yang terpilih adalah ampicilin dengan dosis 150 mg/kgbb/hari dengan kloramfenikol
Pneumonia klebsiela dapat diobati dengan obat terpilih yaitu kanamisin 7,5 mg/kgbb/12 jam untuk 10 – 12 hari atau dapat digunakan gentamisin.
Pneumonia pseudomonas aeroginosa dapat diobati dengan karbenisilin yang dikombinasikan dengan gentamisin
Untuk pneumonia yang disebabkan oleh virus pengobatannya adalah dengan menempatkan anak dalam ruangan dengan kelembaban udara yang tinggi, sebaiknya dengan uap dingin. Hal ini dimaksudkan untuk mencairkan sekret bronkus yang liat. Untuk tujuan ini dapat juga diberikan pengobatan inhalasi. Oksigen perlu diberikan walaupun anak belum dalam keadaan sianosis. Cairan intravena dengan elektrolit yang diperlukan diberikan untuk mengoreksi asidosis respiratorik dan metabolik yang mungkin timbul dan juga untuk mengoraksi kemungkinan dehidrasi. Antibiotika diberikan jika ada infeksi bakterial dan sebaiknya dipilih yang mempunyai spektrum luas. Bila dicurigai Mycoplasma pneumoniae sebagai penyebab, obat yang terpilih adalah eritromisin. Tentang pemberian steroid masih belum ada keseragaman. Pemberian sedativum tidak diperkenankan karena dapat menimbulkan depresi pernapasan. Bila dianggap perlu dapat diberikan kloralhidrat. Bronkodilator juga tidak dianjurkan dan sebetulnya merupakan kontra indikasi, karena dapat memperberat keadaan anak. Penderita dapat menjadi gelisah dan keperluan oksigen akan meningkat.
Pneumonia yang tidak berat, tidak perlu dirawat di Rumah Sakit. (1, 2, 3, 5, 6, 7)









KESIMPULAN
Pneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus maupun jamur.
Penyebab pneumonia adalah:
1. Bakteri
• Streptococcus pneumoniae
• Staphylococcus aureus
• Legionella
• Hemophilus influenzae
2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air)
3. Organisme mirip bakteri: Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anak-anak dan dewasa muda)
4. Jamur tertentu.
Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui:
• Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar
• Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
• Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.
Beberapa orang yang rentan (mudah terkena) pneumonia adalah:
• Peminum alkohol
• Perokok
• Penderita diabetes
• Penderita gagal jantung
• Penderita penyakit paru obstruktif menahun
• Gangguan sistem kekebalan karena obat tertentu (penderita kanker,penerima organ cangkokan)
• Gangguan sistem kekebalan karena penyakit (penderita AIDS).
Pneumonia juga bisa terjadi setelah pembedahan (terutama pembedahan perut) atau cedera (terutama cedera dada), sebagai akibat dari dangkalnya pernafasan, gangguan terhadap kemampuan batuk dan lendir yang tertahan. Yang sering menjadi penyebabnya adalah Staphylococcus aureus, pneumokokus, Hemophilus influenzae atau kombinasi ketiganya.
Pneumonia pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh bakteri, yang tersering yaitu bakteri Streptococcus pneumoniae pneumococcus). Pneumonia pada anak-anak paling sering disebabkan oleh virus pernafasan, dan puncaknya terjadi pada umur 2-3 tahun. Pada usia sekolah, pneumonia paling sering disebabkan oleh bakteri Mycoplasma pneumoniae.
Pneumonia dikelompokkan berdasarkan sejumlah sistem yang berlainan. Salah satu diantaranya adalah berdasarkan cara diperolehnya, dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu "community-acquired" (diperoleh diluar institusi kesehatan) dan "hospital-acquired" (diperoleh di rumah sakit atau sarana kesehatan lainnya). Pneumonia yang didapat diluar institusi kesehatan paling sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae. Pneumonia yang didapat di rumah sakit cenderung bersifat lebih serius karena pada saat menjalani perawatan di rumah sakit, sistem pertahanan tubuh penderita untuk melawan infeksi seringkali terganggu. Selain itu, kemungkinannya terjadinya infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik adalah lebih besar.

Gejala-gejala yang biasa ditemukan adalah:
• batuk berdahak (dahaknya seperti lendir, kehijauan atau seperti nanah)
• nyeri dada (bisa tajam atau tumpul dan bertambah hebat jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk)
• menggigil
• demam
• mudah merasa lelah
• sesak nafas
• sakit kepala
• nafsu makan berkurang
• mual dan muntah
• merasa tidak enak badan
• kekakuan sendi
• kekakuan otot.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
• kulit lembab
• batuk darah
• pernafasan yang cepat
• cemas, stres, tegang
• nyeri perut.
Untuk mendiagnosa Pada pemeriksaan dada dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar suara ronki.

Pemeriksaan penunjang:
• Rontgen dada
• Pembiakan dahak
• Hitung jenis darah
• Gas darah arteri.
Untuk pengobatan kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bisa diberikan antibiotik per-oral (lewat mulut) dan tetap tinggal di rumah.
Penderita dengan sesak nafas atau dengan penyakit jantung atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antibiotik diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen tambahan, cairan intravena dan alat bantu nafas mekanik.
Kebanyakan penderita akan memberikan respon terhadap pengobatan dan keadaannya membaik dalam waktu 2 minggu.


















DAFTAR PUSTAKA

1. Staf Pengajar bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985, Ilmu Kesehatan Anak Buku 3, Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI
2. Staf Pengajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi IV, Jakarta; Pusat Penerbitan IPD FKUI
3. www.medicastore.com/penyakit pneumonia/isi_art_75/
4. www.conectique.com/parenting/pneumonia/article _1/
5. www.conectique.com/parenting/pneumonia/article _2259/
6. www.infeksi.com/pusat penyakit infeksi/penyakit/pneumonia/article_48/
7. www.nurses-recruitment.blogspot.com/penyakit_dan pengobatan/penyakit_pneumonia/

Asma Bronkhial

ASMA BRONKIAL


I.Pendahuluan

Pedoman Nasional Asma Anak menggunakan definisi yang praktis dalam bentuk definisi operasional yaitu wheezing dan/atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut: (1)timbul secara episodik dan/atau kronik, (2)cenderung pada malam/ dini hari (nokturnal), (3)musiman, (4)adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik, dan (5)bersifat reversible baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya (6)riwayat asma atau atopi lain pada pasien/ keluarganya, sedangkan sebab-sebab lain disingkirkan
Asma merupakan penyakit dengan karakteristik meningkatnya reaksi trakea dan bronkus oleh berbagai macam pencetus disertai dengan timbulnya penyempitan luas saluran napas bagian bawah yang dapat berubah-ubah derajatnya secara spontan dengan pengobatan.(1)
Serangan asma dapat berupa sesak napas ekspiratoar yang paroksismal, berulang-ulang dengan mengi (‘wheezing’) dan batuk yang disebabkan oleh konstriksi atau spasme otot bronkus, inflamasi mukosa bronkus dan produksi lendir kental yang berlebihan.
Asma merupakan penyakit familier, diturunkan secara poligenik dan multifaktorial. Telah ditemukan hubungan antara asma dan lokus histokompatibilitas (HLA) dan tanda genetik pada molekul immunoglobulin G(IgG).(2)

II. Insiden

Kira-kira 2-20% populasi anak dilaporkan pernah menderita asma. Belum ada penyelidikan menyeluruh mengenai angka kejadian asma pada anak di Indonesia, namun diperkirakan berkisar antara 5-10%. Dilaporkan dibeberapa negara angka kejadian asma meningkat, misalnya di Jepang.
Siapa saja yang dapat mengidap asma? tidak ada petanda yang jelas untuk meramal apakah seseorang akan mengidap asma atau tidak, tetapi ada beberapa penelitian yang menunjukkan beberapa faktor yang berkaitan dengan mula terjadinya asma pada anak antara lain :
1. Bayi atau anak kecil yang mengeluarkan suara seperti siulan bila mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas yang disebabkan oleh virus.
2. Alergi, hubungan antara asma dan alergi sangat erat. Jika anak anda mempunyai alergi tertentu, waspadalah terhadap kemungkinan anak anda mengidap asma.
3. Riwayat keluarga terhadap asma dan/ atau alergi.
4. Paparan terhadap asap rokok dan alergen saat dalam kandungan.(3,4)

III.Etiologi

1. Penyakit kompleks menyangkut berbagai faktor, antara lain : saraf otonom, imunologik, infeksi, endokrin, dan psikologik.
2. Saraf otonom
- Kelainan saraf simpatik
Gangguan pada reseptor adrenergik adenil sinklase
- Kelainan saraf parasimpatik
Aktifitas sistem kolinergik meningkat menimbulkan bronkonstriksi
- Non Adrenergik Non Kolinergik (NANC)
VIP (Vasoactive Intestinal Peptide) = bronkodilator
3. Faktor Imunologik
Atopik --- Genetik
4. Faktor Infeksi
- Infeksi virus merupakan faktor penting dalam patogenesis asma
- Infeksi --- timbulkan lesi mukosa --- permudah penetrasi molekul besar
melewati bronkus --- respon terpapar
- Infeksi virus --- menekan fungsi sel T supresor --- IgE >>
- Infeksi virus --- memblokade sistem saraf simpatis
5. Faktor Endokrin
- Eksaserbasi asma ada hubungannya dengan : haid, terutama premenstruasi (pra
haid) atau asma mungkin mempunyai kaitan pada perempuan menstruasi
- Asma membaik pada beberapa anak pada usia pubertas
6. Faktor psikologis
Faktor emosi dapat mencetuskan serangan asma pada anak dan dewasa.(2)
IV.Patologi

Asma ditandai 3 kelainan utama pada bronkus yaitu bronkokonstriksi otot bronkus, inflamasi mukosa dan bertambahnya sekret yang berada jalan napas. Pada stadium permulaan terlihat mukosa jalan napas pucat, terdapat edema dan sekresi lendir bertambah. Lumen bronkus dan bronkiolus menyempit akibat spasme. Terlihat kongesti pembuluh darah, infiltrasi sel eosinofil bahkan juga dalam sekret didalam lumen saluran napas. Bila serangan terjadi sering dan lama atau dalam stadium lanjut, akan terlihat deskuamasi epitel, penebalan membran hialin basal, hyperplasia serat elastin, hiperplasia dan hipertropi otot bronkus dan jumlah sel goblet bertambah. Kadang-kadang pada asma menahun atau pada serangan yang berat terdapat penyumbatan bronkus oleh mukus yang kental yang mengandung eosinofil.
Tergantung pada beratnya penyakit ini mungkin menimbulkan gejala atau hanya menimbulkan perasaan iritasi pada trakea, pada kasus lain, tidak dapat diatasi. Turbulensi arus udara dan getaran ke bronkus mengakibatkan suara mengi yang terdengar jelas pada saat serangan asma, namun tanda fisik ini juga menyolok pada sumbatan saluran napas lain.
Pada asma tanpa komplikasi, batuk hanya menyolok sewaktu serangan mereda, batuk membantu mengeluarkan sekret yang terkumpul. Diantara serangan asma yang khas penderita bebas dari mengi dan gejala, walaupun reaktivitas bronkus meningkat dan kelainan pada ventilasi tetap dapat diperlihatkan dengan tehnik khusus. Namun pada keadaan asma kronik, masa tanpa serangan mungkin dapat menghilang, sehingga dapat mengakibatkan keadaan asma yang terus-menerus sering disertai infeksi sekunder.
Penderita-penderita asma, baik dengan mekanisme alergi maupun tanpa alergi memiliki kelabilan bronkus yang abnormal sehingga mempermudah penyempitan saluran napas. Penyempitan ini disebabkan oleh banyak faktor yang pada orang normal tidak mempunyai efek..Secara fungsional, saluran napas penderita asma bertindak seakan-akan pernapasan adrenergik-betanya tidak kompeten (yang membantu pertahanan saluran napas agar tetap paten), dan terdapat banyak bukti yang memberi kesan bahwa paling tidak secara fungsional terdapat hambatan sebagian reseptor adrenergik-beta pada asma yang khas ini. Tanpa tonus bronkodilator yang memadai, pengaruh bronkonstriktor, yang secara normal diketahui diperantarai saraf parasimpatik (kolinergik) dan adrenergik- alfa, cenderung menonjol.(2,5)

V. Manifestasi Klinik

* Anamnesis
- Ada riwayat dermatitis atopik atau rhinitis alergik
- Riwayat keluarga dengan penyakit atopik (asma, rhinitis alergik)
- Riwayat batuk berulang, dapat disertai sesak napas dan wheezing
- Serangan timbul setelah ISPA, setelah latihan, setelah terpapar dengan bahan iritan,
udara dingin, alergen, asap rokok, atau bahan luar sederhana : aspirin atau sulfa
- Riwayat penggunaan obat sebelumnya
* Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi :batuk, takipneu, napas cuping hidung, toraks cembung --- barel chest (kro
nik, club of the finger (jari tabuh) --- kronik
- Perkusi : hipersonor
- Auskultasi : bunyi pernapasan melemah, bronkhial, ronchi basah kasar dan wheezing
* Pemeriksaan Laboratorium
- Eosinofil (darah tepi, sekret hidung dan sputum)
- Ig E darah
- Uji Kulit --- untuk tentukan alergen tertentu
- Uji profokasi bronkus --- hidden asthma
- Uji fungsi paru
• Bertujuan : tentukan diagnosis, berat ringannya penyakit, respon terhadap pengobatan, pemantauan dirumah (peak flow meter)
• Pemeriksaan paling sederhana : Peak flow meter --- flow rate
• Lebih kompleks : Spirometer --- FEV 1,0 (Forced Expiratory Volume In One Second) dan FVC (Forced Vital Capasity) dll
- Analisis golongan darah (Astrup ) :pH <7, pO2 menurun, pCO2 meningkat * Pemeriksaan Foto thoraks - Tidak semua penderita - Menyingkirkan diagnosa penyakit lain, mencari komplikasi seperti pneumonia atele – taksis - Kelainan : Corak paru bertambah, hiperinflasi, ateletaksis pada 6% anak - Foto ulang tidak dianjurkan selama eksaserbasi jika tidak ada indikasi kecuali demam bertambah, curiga terjadi pneumotoraks, takipneu >60 x/ menit, takikardi
160x/ menit, ada wheezing/ ronchi local atau penurunan bunyi pernapasan
Diagnosis berdasarkan atas : anamnesis, pemeriksaan fisis dan laboratorium.(2,6,7)

VI. Diagnosis Banding

Mengi dan dispnue ekspirator dapat terjadi pada bermacam-macam keadaan yang menyebabkan obstruksi pada saluran napas.
1. Pada bayi adanya korpus alienum di saluran napas dan esophagus atau kelenjar timus yang menekan trakea
2. Penyakit paru kronik yang berhubungan dengan bronkiektasis atau fibrosis kistik.
3. Bronkiolitis akut, biasanya mengenai anak di bawah umur 2 tahun dan terbanyak di bawah umur 6 bulan dan jarang berulang.
4. Bronkhitis.
Bronkhitis merupakan akibat beberapa keadaan lain saluran pernapasan atas dan bawah, dan trakea biasanya terlibat.
Bronkitis asmatis adalah bentuk asma yang sering terancukan dengan bronkhitis akut. Pada berbagai infeksi saluran pernapasan atas, beberapa anak menderita spasme bronkus dan eksudasi yang serupa dengan tanda-tanda pada anak lebih besar yang menderita asma.
Bronkhitis akut biasanya didahului oleh infeksi pernapasan atas. Infeksi bakteri sekunder dengan Streptococcus pneumoniae, Moraxella catarrhalis, atau H. influenzae dapat terjadi. Khasnya, anak datang dengan batuk yang sering, kering, pendek, tidak produktif dan timbulnya relative bertahap, mulai 3-4 hari sesudah munculnya rhinitis. Ketidakenakan substernal bawah atau nyeri terbakar dada depan sering ada dan dapat diperjelek oleh batuk.Dalam beberapa hari batuk dapat menjadi produktif, dan sputum berubah dari jernih ke purulen. Biasanya dalam 5- 10 hari, mukus encer, dan menghilang secara bertahap.
5. Tuberkulosis kelenjar limfe didaerah trakeobronkhial
6. Asma kardial
7. Kelainan trakea dan bronkus, misalnya trakeabronkomalasi dan stenosis bronkus.(5,6)

VII. Penatalaksanaan

o Oral
Salbutamol tab 2 mg atau 4 mg
- Anak 2-6 thn 3 x 1 mg
- Anak 6-12 thn 3 x 2 mg
o Per Inhalasi
- Inhaler 3x semprotan
- Selang 2 menit
- Nebulizer 0,25 mg fentolin dengan aquades 3cc, 3 menit 3- 4x/ hari
Protokol Penanganan Status Asmatikus
 Beri Adrenalin 0,01 mg/ kgBB/ subkutan
 Dapat diulang 3x tergantung keadaan penderita dengan interval 20 menit sekali pemberian
 Bila dengan tindakan diatas membaik, dilanjutkan dengan pemberian 2 antagonis seperti salbutamol 0,1 mg/kgBB/ x
 Bila tindakan diatas tidak berhasil maka :
- Bolus aminofilin 5 mg/ kgBB dalam larutan NaCl 0,9% 50 ml dalam 20 menit, setelah itu diberikan maintenance aminofilin 15-20 mg/kgBB/ 24 jam dalam dextrose 5% + NaBic 1,5% = 4:1
 Bila dengan terapi diatas kurang berhasil, pertimbangkan pemberian kortikosteroid
 Setelah keadaan membaik, dilanjutkan dengan pemberian 2 antagonis per oral.
Sementara itu dr. Hardianto dari Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia mengatakan penanganan asma di unit gawat darurat dan di rumah sakit cukup baik. Namun yang masih kurang adalah pengendalian asma. Data dari RS Persahabatan menunjukkan bahwa ada sekitar 10.000 penderita asma yang berobat disana dan 5.000 penderita yang datang ke rumah sakit tersebut sudah dalam keadaan akut.
Penatalaksanaan asma menurut Global Initiavie for Asthma (GINA) ada enam langkah yakni pendidikan pada penderita dan keluarganya, menentukan klasifikasi asma, menghindari faktor pencetus, memberikan pengobatan yang optimal, menatalaksanakan eksaserbasi akut dan melakukan kontrol secara berkala.(2,6)

VIII. Prognosis
Beberapa studi kohort menemukan bahwa banyak anak bayi dengan wheezing tidak berlanjut menjadi asma pada masa anak dan remajanya. Proporsi kelompok tersebut berkisar antara 45 hingga 85%, tergantung besarnya sample studi, tipe studi kohort, dan lamanya pemantauan.Adanya asma pada orang tua dan dermatitis atopik pada anak dengan wheezing merupakan salah satu indikator penting untuk terjadinya asma dikemudian hari. Apabila terdapat kedua hal tersebut maka kemungkinan menjadi asma lebih besar atau terdapat salah satu di atas disertai dengan 2 atau 3 keadaan berikut yaitu eosinofilia, rhinitis alergika, dan wheezing yang menetap pada keadaan bukan flu.(2,8)

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.klinikku.com/
2. Nelson, Asma, Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15 vol 1, EGC, Jakarta, 2000
3. http://solution21st.com/index.htm
4. http://www.umm.edu/imagepages/19321.htm
5. http://kickme.to/iLLUSiON/
6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK-UI, Asma, Pulmonologi, Ilmu Kesehatan Anak FK-UI, Cetakan ke-4, Infomedika, Jakarta, 1985
7. http://www.halalguide.info/mumtaaz/
8. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0704/22/cakrawala/index.htm

Jumat, 28 Mei 2010

Dialisa

DEFINISI
Dialisa adalah proses pembuangan limbah metabolik dan kelebihan cairan dari tubuh.

Ada 2 metode dialisa, yaitu hemodialisa dan dialisa peritoneal.
Pada hemodialisa, darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan dipompa ke dalam mesin yang akan menyaring zat-zat racun keluar dari darah dan kemudian darah yang sudah bersih dikembalikan lagi ke dalam tubuh penderita. Jumlah total cairan yang dikembalikan dapat disesuaikan.
Pada dialisa peritoneal, cairan yang mengandung campuran gula dan garam khusus dimasukkan ke dalam rongga perut dan akan menyerap zat-zat racun dari jaringan. Cairan tersebut kemudian dikeluarkan lagi dan dibuang.


ALASAN DILAKUKANNYA DIALISA

Dialisa dilakukan jika gagal ginjal menyebabkan:
- Kelainan fungsi otak (ensefalopati uremik)
- Perikarditis (peradangan kantong jantung)
- Asidosis (peningkatan keasaman darah) yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan lainnya
- Gagal jantung
- Hiperkalemia (kadar kalium yang sangat tinggi dalam darah).

Dialisa banyak digunakan sebagai pencegahan pada gagal ginjal akut yang pembentukan kemihnya sangat sedikit dan dilanjutkan sampai pemeriksaan darah menunjukkan bahwa fungsi ginjal telah kembali.
Pada gagal ginjal kronis, dialisa dilakukan jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ginjal tidak mampu membuang limbah metabolik atau jika penderita tidak dapat lagi melakukan kegiatannya sehari-hari.

Frekuensi dialisa bervariasi, tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa, tetapi sebagian besar penderita menjalani dialisa sebanyak 3 kali/minggu.
Program dialisa dikatakan berhasil jika:
- penderita kembali menjalani hidup normal
- penderita kembali menjalani diet yang normal
- jumlah sel darah merah dapat ditoleransi
- tekanan darah normal
- tidak terdapat kerusakan saraf yang progresif.

Dialisa bisa digunakan sebagai pengobatan jangka panjang untuk gagal ginjal kronis atau sebagai pengobatan sementara sebelum penderita menjalani pencangkokan ginjal.
Pada gagal ginjal akut, dialisa dilakukan hanya selama beberapa hari atau beberapa minggu, sampai fungsi ginjal kembali normal.

Dialisa juga bisa digunakan untuk membuang obat tertentu atau racun dari tubuh.


PERMASALAHAN

Penderita yang menjalani dialisa memerlukan makanan dan obat khusus.
Nafsu makan penderita menurun dan terjadi kehilangan protein selama dialisa peritoneal, karena itu penderita biasanya memerlukan diet tinggi protein (secara kasar sebanyak 1 gram/kg BB).

Asupan natrium dan kalium harus dibatasi sampai 2 gram/hari. Asupan makanan kaya fosfat juga harus dibatasi.
Asupan cairan pada penderta yang memiliki kadar natrium rendah harus dibatasi.

Sangat penting untuk melakukan penimbangan berat badan setiap hari.
Penambahan berat badan yang berlebihan menunjukkan terlalu banyaknya asupan cairan.

Multivitamin dan tambahan zat besi perlu diberikan untuk menggantikan zat gizi yang hilang pada proses dialisa.
Penderita yang menjalani dialisa dan menerima banyak transfusi darah seringkali mendapatkan terlalu banyak zat besi karena darah mengandung sejumlah besar zat besi. Karena itu penderita tidak mendapatkan tambahan zat besi.
Untuk merangsang pembentukan se darah merah bisa diberikan hormon (testosteron atau eritropoietin).
Pengikat fosfat (misalnya kalsium karbonat atau kalsium asetat) diberikan untuk membuang kelebihan fosfat.

Kadar kalsium darah yang rendah atau penyakit tulang hiperparatiroid yang berat diobati dengan kalsitriol (salah satu bentuk vitamin D) dan tambahan kalsium.

Pada penderita gagal ginjal sering dijumpai tekanan darah tinggi. Pada 50% penderita, hal ini bisa diatasi secara sederhana dengan membuang sejumlah cairan selama dialisa. Sedangkan pada penderita lainnya perlu diberikan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah.


HEMODIALISA

Hemodialisa adalah suatu prosedur dimana darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan beredar dalam sebuah mesin diluar tubuh yang disebut dialyzer.
Prosedur ini memerlukan jalan masuk ke aliran darah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka dibuat suatu hubungan buatan diantara arteri dan vena (fistula arteriovenosa) melalui pembedahan.

Pada hemodialisa, darah penderita mengalir melalui suatu selang yang dihubungkan ke fistula arteriovenosa dan dipompa ke dalam dialyzer.
Untuk mencegah pembekuan darah selama berada dalam dialyzer maka diberikan heparin.

Di dalam dialyzer, suatu selaput buatan yang memiliki pori-pori memisahkan darah dari suatu cairan (dialisat) yang memiliki komposisi kimia yang menyerupai cairan tubuh normal.
Tekanan di dalam ruang dialisat lebih rendah dibandingkan dengan tekanan di dalam darah, sehingga cairan, limbah metabolik dan zat-zat racun di dalam darah disaring melalui selaput dan masuk ke dalam dialisat. Tetapi sel darah dan protein yang besar tidak dapat menembus pori-pori selaput buatan ini.
Darah yang telah dicuci lalu dikembalikan ke dalam tubuh penderita.

Dialyzer memiliki ukuran dan tingkat efisiensi yang berbeda-beda.
Mesin yang lebih baru sangat efisien, darah mengalir lebih cepat dan masa dialisa lebih pendek (2-3 jam, sedangkan mesin yang lama memerlukan waktu 3-5 jam).
Sebagian besar penderita gagal ginjal kronis perlu menjalani dialisa sebanyak 3 kali/minggu.



Komplikasi HemodialisaKomplikasi Penyebab

Demam Bakteri atau zat penyebab demam (pirogen) di dalam darah
Dialisat terlalu panas

Reaksi anafilaksis yg berakibat fatal
(anafilaksis) Alergi terhadap zat di dalam mesin
Tekanan darah rendah

Tekanan darah rendah Terlalu banyak cairan yg dibuang

Gangguan irama jantung Kadar kalium & zat lainnya yg abnormal dalam darah

Emboli udara Udara memasuki darah di dalam mesin

Perdarahan usus, otak, mata atau perut Penggunaan heparin di dalam mesin untuk mencegah pembekuan


DIALISA PERITONEAL

Pada peritoneal dialisa, yang bertindak sebagai penyaring adalah peritoneum (selaput yang melapisi perut dan membungkus organ perut).
Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya akan pembuluh darah. Zat-zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum ke dalam rongga perut.

Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut.
Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah metabolik dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut.
Kemudian cairan dikeluarkan, dibuang dan diganti dengan cairan yang baru.

Biasanya digunakan selang karet silikon yang lembut atau selang poliuretan yang berpori-pori, sehingga cairan mengalir secara perlahan dan tidak terjadi kerusakan.

Dialisa peritoneal tidak boleh dilakukan pada penderita yang:
- menderita infeksi dinding perut
- memiliki hubungan abnormal antara dada dan perut
- baru saja menjalani pencangkokkan pembuluh darah buatan di dalam perut
- memiliki luka baru di perut.

Ada beberapa teknik yang digunakan dalam dialisa peritoneal:
Dialisa peritoneal intermiten manual.
Merupakan teknik yang paling sederhana.
Sebuah kantong berisi cairan dipanaskan sesuai suhu tubuh, lalu cairan dimasukkan ke dalam rongga peritoneum selama 10 menit dan dibiarkan selama 60-90 menit, kemudian dikeluarkan dalam waktu 10-20 menit.
Keseluruhan prosedur memerlukan waktu sekitar 12 jam.
Teknik ini terutama digunakan untuk mengobati gagal ginjal akut.
Dialisa peritoneal intermiten dengan pemutar otomatis.
Bisa dilakukan di rumah penderita.
Suatu alat dengan pengatur waktu secara ototmatis memompa cairan ke dalam dan keluar dari rongga peritoneum. Biasanya alat pemutar dipasang pada waktu tidur sehingga pengobatan dijalani pada saat penderita tidur.
Pengobatan ini harus dilakukan selama 6-7 malam/minggu.
Dialisa peritoneal berpindah-pindah yang berkesinambungan.
Cairan dibiarkan di dalam perut dalam waktu yang lama, dan dikeluarkan serta dimasukkan lagi sebanyak 4-5 kali/hari.
Cairan dikemas dalam kantong polivinil klorida yang dapat dikembangkempiskan. Jika kosong, kantong ini bisa dilipat tanpa harus melepaskannya dari selang.
Biasanya cairan harus diganti sebanyak 3 kali, dengan selang waktu 4 jam atau lebih. Setiap pergantian memerlukan waktu 30-45 menit.
Dialisa peritoneal yang dibantu oleh pemutar secara terus menerus.
Teknik ini menggunakan pemutar otomatis untuk menjalankan pergantian singkat selama tidur malam, sedangkan pergantian yang lebih lama dilakukan tanpa pemutar pada siang hari.
Teknik ini mengurangi jumlah pergantian di siang hari tetapi pada malam hari penderita tidak dapat bergerak secara leluasa karena alatnya tidak praktis.

Komplikasi Dialisa Peritoneal
Perdarahan di tempat pemasangan selang atau perdarahan di dalam perut
Perforasi organ dalam pada saat memasukkan selang
Kebocoran cairan di sekitar selang atau ke dalam dinding perut
Penyumbatan aliran cairan oleh bekuan darah
Infeksi, baik pada peritoneum maupun di kulit tempat selang terpasang (menyebabkan terbentuknya abses). Infeksi biasanya terjadi karena prosedur dialisa yang kurang steril. Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotik.
Hipoalbuminemia
Sklerosis peritonealis (pembentukan jaringan parut di peritoneum), yang mengakibatkan penyumbatan parsial usus halus
Hipotiroidisme
Hiperglikemia, sering terjadi pada penderita kencing manis
Hernia perut dan selangkangan
Sembelit.

Narkoba

BAB I
P E N D A H U L U A N

I.1 Latar Belakang
Masalah narkotik bukan masalah baru bagi bangsa Indonesia karena sudah asa sejak masa penjajahan Belanda, justru makin berkembang berirama dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Narkotika telah dipergunakan di dunia kedokteran sejak lama dan telah memberikan sumbangsihnya dalam menangani kesengsaraan berjuta-juta manusia.
Yang menjadi masalah sebenarnya bukanlah narkotika itu sendiri, tetapi penggunaan yang tidak benar yang biasa disebut penyalahgunaan narkotik. Penyalah gunaan narkotika telah menyebar sebagai suatu wabah, suatu penyakit yang menakutkan, suatu ancaman yang mengerikan, bukan hanya masa kini tetapi juaga di masa mendatang.
Menghadapi situasi yang semakin serius ini, pada tahun 1971 Pemerintah dengan Instruksi Presiden No. 6 Thn 1971 menyatakan bahwa narkotika merupakan bahaya Nasional yang mengancam kehidupan bangsa Indonesia. Guna mengatur penyediaan dan penggunaan narkotika serta mencegah dan menanggulangi berkembangnya penyelahgunaan narkotika serta mengancam serta menanggulangi berkembangnya penyalahgunaan narkotika, Pemerintah telah mengeluarkan UU No. 9 Thn 1976 tentang narkotika.
Usaha-usaha penanggulangan telah dilakukan oleh Pemerintah baik barsifat preventif, Pre-emtive, Represive, dan Rehabilitasi Treatment namun ini masih belum dapat diselesaikan secara tuntas.
I.2 Masalah
Masa sekarang ini narkotika dikalangan masyarakat bukan lagi hal yang asing lagi. Malah merupakan suatu bahan yang sangat terkenal di masyarakat. Ini disebabkan salah satunya karena Pemerintah tidak melakukan gerakan penyadaran kepada masyarakat. Pemerintah cuma mengeluarkan peraturan-peraturan yang tidak mengena kepada masyarakat Jadi, masyarakat belum mengerti mengenai bahaya narkotika, sehingga wajar saja kalau penyalahgunaan narkotika tetap saja marak kita dengar. Untuk itulah makalah ini dibuat agar masyarakat apat sadar akan bahaya penyalahgunaan narkotika.














BAB II
P E M B A H A S A N

Jenis-jenis Narkotika
Pengertian narkotika dan bahan-bahan termasuk narkotika menurut SOEDJONO D, SH. mengemukakan pengertian narkotika adalah sejenis zat yang apabila dipergunakan akan membuat efek dan pengaruh-pengaruh terhadap tubuh si pemakai, yaitu :
- Mempengaruhi kesadaran
- Memberi dorongan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku manusia antara lain :
1. penenang
2. perangsang
3. menimbulkan halusinasi.
Menurut UU No 9 Thn 1971 Pasal 1 menentukan jenis-jenis zat yang termasuk narkotika adalah :
Bahan-bahan :
a. Tanaman Papaver adalah tanaman Papaver somniferum, termasuk biji, buah, dan jeraminya.
b. Opium mentah ialah getah yang membeku sendiri, diperoleh dari buah tanaman Papaver somniferum yang hanya dapat mengalami pengolahan sekedar untuk pembungkusan dan pengangkutan tanpa memperhatikan kadar morfinnya.

c. Opium masalah :
1. Candu, yakni hasil yang diperoleh dari opium mentah malalui suatu rentetan pengolahan, khususnya dengan pelarutan, pemanasan dan peragian dengan atau tanpa penambahan bahan-bahan lain dengan maksud untuk mengubahnya menjadi suatu estrak yang cocok untuk pemadatan.
2. Jicing ialah sisa-sisa dari candu setelah diisap tanpa memikirkan apakah candu itu dicampur dengan daun atau dengan bahan lain.
3. Jicingko ialah hasil yang diperoleh dari pengolahan jicing.
d. Opium obat ialah opium mentah yang telah mengalami pengolahan. Sehingga sesuatu untuk pengobatan, baik dalam bentuk bubuk atau dalam bentuk lain atau dicampur dengan zat-zat netral sesuai dengan syarat Farmakope Indonesia.
e. Morfina ialah alkaloid utama dari opium.
f. Tanaman koka ialah tanaman dari semua genus Erythroxylon dari keluarga Erythroxylaceae.
g. Daun koka ialah daun yang belum atau sudah dikeringkan atau dalam bentuk serbuk dari semua tanaman genus Erythroxylon, yang menghasilkan kokaina secara langsung atau melalui perubahan kimia.
h. Kokain mentah ialah semua hasil-hasil yang dapat diolah secara langsung untuk mendapatkan kokaina.
i. Kokaina ialah metil ester l-benzoil ekgonina.
j. Ekgonina 1-ekgonina dan ester serta turunannya yang dapat diubah menjadi egonina dan kokaina.
k. Tanaman ganja ialah semua bagian dari semua tanaman genus Cannabis, termasuk biji dan buahnya.
1. Damar ganja adalah damar yang diambil dari tanaman ganja, termasuk hasil pengolahannya, yang menggunakan damar sebagai bahan dasar.
2. Garam-garam dan turunan-turunana dari morfina dan kokaina.
3. Bahan lain baik alamiah, sintetis maupun semi sintetis yang belum disebutkan yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang ditetapan oleh Menteri Kesehatan sebagai narkotika, apabila penyalahgunaannya dapat menimbulkan akibat ketergantungan yang merugikan seperti morfina dan kokaina.
4. campuran-campuran dan sediaan yang mengandung bahan yang tersebut dalam 1-3 di atas.
Aspek Psiko-sosial penyalahgunaan Narkotika
Dalam penelitan-penelitian penyebab seseorang menggunakan narkotika, yang kemudiandapat disimpulkan bahwa: Penyalahgunaan narkotika merupakan interaksi antara fektor predisposisi (kelainan kepribadian anti-sosial, kecemasan dan depresi); faktor konstribusi (masalah keluarga) dan faktor pencetus (pengaruh teman-teman sebaya). Bahkan beberapa faktor dihitung (estimate of relative risk) dari masing-masing faktor terhadap kemungkinan penyalahgunaan narkotika

sebagai berikut:
- gangguan kepribadian = 19,9 kali
- kecemasan = 13,8 kali
- depresi = 18,8 kali
- kondisi keluarga = 7,87 kali
Selain hal-hal diatas, beberapa aspek psikososial yang menarik adalah sebagai berikut:
1. Pada umumnya kasus mulai menggunakan narkotika pada usia muda yaitu antara 13 – 17 tahun.
2. Sebagian besar mendapatkan narotika dari teman (80 %).
3. Asal kasus penyalahgunaan zat adalah untuk menghilangkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, kemurungan dan sukar tidur.
4. permasalahan yang timbul adalah prestasi sekolah yang merosot (96 %), terganggu hubungan kekeluargaan (93,9 %), kecelakaan lalu lintas / kecelakaan (58,7 %).
5. Terdapat tujuh jenis bantuan yang diharapkan oleh kasus, yaitu bantuan untu menghentikan penyalahgunaan zat, memperbaiki hubungan kekeluargaan, bantuan medis / kesehatan, memecahkan masalah pribadi, memanfaatkan waktu luang, keluar dari ikatan teman sekelompok dan agar tetap sekolah.
6. Tempat pertamakali mendapat zat adalah sekolah (41,3 %).
7. Jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli zat relatif sedikit yaitu kurang dari Rp 5.000,- perminggu.
8. Sebagian besar mengaku menerima uang dari orang tua.
9. Orang tua kasus kurang berperan dalam mengontrol/mengawasi kegiatan.
10. Ayah dan ibu kasus sibuk dan sering tidak di rumah di banding kelompok kontrol.
11. Pada umumnya sifat ayah meupun ibu dari kasus kurang baik bila dibandingkan dengan kelompok kontrol.
12. Pada umumnya ayah-ibu kasus kurang baik bila dibandingkan dengan kelompok kontrol.
13. Pada umumnya hubungan ayah atau ibu dengan anak pada kasus lebih buruk daripada kelompok kontrol.
14. Demikian juga hubungan kasus dengan saudaranya dibandingkan dengan kelompok kontrol lebih buruk.
15. Pada umumnya kelompok kontrol lebih sering melakukan ibadah agamanya dari kelompok kasus.
Upaya penanggulangan
Dalam rangka menanggulangi penyalahgunaan narkotika, Pemerintah dalam hal ini POLRI telah melaksanakan beberapa metode penanggulangan dengan upaya menyeluruh, baik dengan kegiatan operasi khusus kepolisian maupun yang bersifat operasi rutin.
Metode yang digunakan tersebut adalah:
1. Metode Pre emtive.
Yaitu suatu cara atau metode untuk dapat mencegah faktor-faktor yang menimbulkan terjadinya penyalahgunaan narkotika. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh POLRI di dalam metode ini bersifat pencegahan dengan upaya pendekatan dengan kegiatan antara lain: Penerangan, Bimbingan dan Penyuluhan baik kepada orang tua maupun kepada anak-anak. Tujuan akhir maupun sasaran daripada metode ini adalah untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat khususnya golongan usia muda tentang bahaya penyalahgunaan narkotika, sehingga dapat tercipta suatu kondisi kehidupan bermasyarakat yang normal dan sehat serta bebas dari narkotika.
2. Metode Preventive.
Yaitu suatu usaha atau cara penanggulangan terhadap kejahatan di bidang narkotika dengan cara antara lain:
a. Pengawasan secara ketat di tempat yang dianggap sebagai tempat persinggahan perdagangan narkotika, seperti pelabuhan udara, pelabuhan laut serta pintu masuk ke Indonesia.
b. Pencegahan dan pengawasan lalu lintas gelap narkotika di dalam negeri.
c. Pencegahan melalui sarana transportasi darat, laut maupun udara.
d. Pengawasan di wilayah pantai dan perairan Indonesia.
e. Pengawasan terhadap daerah-daerah yang dianggap cukup rawan khususnya daerah yang memungkinkan dilakukannya penanaman bahan narkotika.


3. Metode Represive.
Yaitu suatu usaha atau cara yang dilakukan oleh POLRI dengan menggunakan teknik penyelidikan guna dapat mengungkap jaringan, sebab-sebab dan latar belakang, serta kegiatan sindikat narkotika dengan melakukan upaya penegakan hukum terhadap setiap jenis kegiatan narkotika. Kegiatan ini lebih mengutamakan fungsi penegakan hukum dengan melibatkan fungsi teknis kepolisian lainnya serta melibatkan aparat yang tergabung dalam Criminal Justice System.
4. Metode Treatment Rehabilitation
Yaitu suatu upaya pencegahan terhadap korban narkotika dari sifat ketergantungannya.Upaya ini disebut sebagai suatu teknik rehabilitasi baik secara fisik maupun physiology, sehingga para korban ketergantungan narkotika tersebut dapat kembali ke lingkungan masyarakat dengan baik. Upaya yang telah dilakukan dalam rangka melaksanakan metode rehabilitasi ini salah satu diantaranya adalah dengan didirikannya pusat-pusat rehabilitasi. Di pusat rehabilitasi tersebut deberikan pendidikan baik secara fisik maupun psikologi, sehingga dapat mencegah korban narkotika selanjutnya.
5. Disamping metode tersebut diatas, dalam rangka upaya penanggulangan terhadap kejahatan narkotika POLRI melakukan hubungan kerjasama dengan organisasi kepolisian di negara lainnya.


BAB III
P E N U T U P

Masalah penyalahgunaan narkotika di Indonesia bukan hanya masalah yang bersifat nasional, melainkan merupakan suatu masalah yang bersifat internasional,. Korban daripada penyalahgunaan narkotika menunjukkan angka yang tidak sedikit, khususnya pada golongan usia muda atau remaja.
Dalam bidang kedokteran, diakui penyalahgunaan narkotika mempunyai akibat yang luas pada kesehatan seseorang, bahkan kematian. Tetapi pokok pangkal seseorang, bahkan disepakati sebagai suatu gejala kejiwaan.
Dalam rangka penanggulangan kejagatan narkotika, POLRI secara regional telah berupaya pada setiap aspek penanggulangan, baik di bidang represif dalam rangka suplai reduksi dimana POLRI sebagai ujung tombak dan dibidang preventif dalam rangka penegakan hukum terhadap kejahatan narkotika yang sama subjeknya, bisa perorangan maupun kelompok. Upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap penyalahgunaan narkotika tidak hanya tergantung pada upaya yang telah dilakukan oleh POLRI saja, tetapi membutuhkan bantuan serta dukungan dari semua pihak dan masyarakat guna dapat memberantas bahaya narkotika.


DAFTAR PUSTAKA
M, Syahrul , 1996, Bahaya Penyalahgunaan Narkotika, Kemafar, UH.
Thung, Denny, 1998, Aspek Kejuwaan dari Penyalahgunaan, Kosemafar-UH.

FACTITIOUS DISORDERS

I. PENDAHULUAN
Factitious disorders (FD) atau gangguan buatan adalah suatu kondisi dimana orang memperlihatkan bahwa ia mempunyai penyakit fisik atau mental, yang mana sebenarnya dia tidak benar sakit. Para penderita FD ini memperlihatkan sakitnya kepada orang-orang disekitar mereka yang tidak memperhatikan mereka. Pada dasarnya FD ini berkaitan dengan kondisi psikiatrik dimana individu berpura-pura dalam memerankan sakitnya yang maksudnya hanya untuk memperlihatkan saja.(1-4)
Pada gangguan buatan ini pasien secara sengaja menghasilkan tanda gangguan medis atau mental dan salah menggambarkan (misrepresent) riwayat penyakit dan gejalanya. Tujuan satu-satunya yang tampak dari perilaku adalah mendapatkan peranan dari seorang pasien. Bagi kebanyakan orang, perawatan dirumah sakit sendiri merupakan tujuan utama dan sering kali merupakan cara hidupnya. Selain itu diantara pasien dengan FD ada yang menantang memberi suatu masalah dengan maksud untuk menyibukkan dan untuk memancing emosi seperti marah, frustasi atau membingungkan para dokter di klinik. Pasien dengan FD ini selalu melanggar aturan pokok yang tidak tertulis.(2,5)
Menurut sejarah tahun 1951, seorang dokter klinik (Asher) mengungkapkan suatu kasus dari seorang pasien yang bernama Baron Von Munchausen, mempunyai kebiasaan berpindah-pindah rumah sakit satu ke rumah sakit lain, berpura-pura mengaku ada gejala-gejala dimana mereka mengelabui berdasarkan riwayat pribadi. Asher memberikan nama Munchausen syndrome. (2,4,6,7) Seorang dengan Sindrom Munchausen (SM) memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Banyak memperlihatkan bekas luka operasi, khususnya pada abdomen,
b. Memperlihatkan kegarangan atau sikap mengelak
c. Memberikan suatu medical history yang dramatis dan meragukan
d. Usaha menyembunyikan dokumen rumah sakit seperti formulir pemberhentian atau tagihan asuransi.

Pasien dengan FD sengaja membuat atau melebih-lebihkan gejala dari penyakit dengan berbagai cara. Mereka bisa membuat suatu gejala, dengan melukia diri mereka sendiri atau mengubah tes seperti mengkontaminasikan sample urine sehingga membuat supaya merka terlihat sakit dan orang lain peduli terhadap mereka.(2)

II. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi gangguan buatan adalah tidak diketahui, walaupun beberapa klinis percaya bahwa gangguan ini adalah lebih sering daripada yang diketahui. Gangguan tampaknya paling sering terjadi pada laki-laki, tetapi pada penelitian lainnya didapatkan juga banyak pada wanita. Yang pasti lebih sering pada petugas pelayanan di rumah sakit dan kesehatan (suster) serta teknisi kesehatan. Satu penelitian melaporkan suatu angka 9% gangguan buatan pada semua pasien yang dirawat di suatu rumah sakit dan penelitian lain menemukan demam buatan pada 3% pada semua pasien.(5)
Di US, prevalensi dari FD belum jelas, banyak para dokter ahli percaya bahwa kondisi seperti ini kurang ditemukan karena ini melibatkan penipuan yang disengaja, yang bisa menyebabkan suatu kesalahan dari para medis. Sebaliknya prevalensi dari FD kronis bisa sangat banyak ditemukan beberapa kasusnya. (2,5)
Presentasi frekwensi dari bermacam-macam penyakit yang dibuat-buat juga belum jelas. Walaupun demikian banyak peneliti yang setuju bahwa prevalensi dari pura-pura gejala psikotik adalah sangat rendah dibandingkan dengan prevalensi dari pura-pura gejala fisik.(5)

III. ETIOLOGI
Dasar psikodinamika dari gangguan buatan adalah tidak diketahui juga. Mereka mungkin bertahan bahwa gejala mereka adalah fisik sehingga terapi yang berorientasi psikologis adalah tidak berguna. Dari suatu laporan kasus menyatakan bahwa banyak pasien menderita penyiksaan atau penelantaran pada masa anak-anak, yang menyebabkan seringnya perawatan dirumah sakit selama masa perkembangan awal. Pada keadaan tersebut tinggal di rawat inap mungkin telah dianggap sebagai suatu pelepasan dari situasi rumah yang traumatik dan pasien mungkin menemukan bahwa sejumlah pengasuh (seperti dokter, perawat, dan karyawan rumah sakit) adalah orang-orang yang mengasihi dan bisa merawat mereka(1-5)
Jadi gangguan ini sebenarnya berasal dari suatu bentuk kompulsif berulang, dimana mengulang konflik kebutuhan dasar dan mencari penerimaan dan kasih saying sambil mengharapkan bahwa mereka (orang tua) tidak akan datang. Oleh karena itu pasien mengubah (transform) dokter dan anggota staf menjadi orang tua yang menolak.(5)
Berdasarkan penelitian, yang menyebabkan FD ini terjadi :
 Didasarkan pada tendensi kegembiraan karena menderita/disiksa (masochism)
 Suatu keinginan untuk menjadi suatu pusat perhatian dan merasa dipentingkan
 Suatu keinginan untuk ditanggung dan mendapatkan pemeliharaan
 Suatu keinginan untuk cepat merasakan ketidakenakan (sifat mudah kena serang atau luka)
 Suatu keinginan untuk mendapatkan perhatian pertama dari figure yang berwibawa (dokter), ini merupakan suatu kepuasan akan ketrampilannya untuk menipu sang dokter.(2)
Beberapa pasien menunjukkan kepribadian yang telah mengambil identitas dari mereka yang berada disekelilingnya (biasanya sanak-saudara yang pernah dirawat di rumah sakit dengan penyakit yang mereka simulasi). Walaupun sebagian besar pasien bertindak sendiri, teman-teman atau sanak saudara ikut berperan serta juga dalam membentuk penyakit pada beberapa keadaan.(5,8)

IV. DIAGNOSIS dan GAMBARAN KLINIS
Kriteria diagnostik untuk gangguan buatan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV) adalah sebagai berikut :
A. Menimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat tanda atau gejala fisik atau psikologis
B. Motivasi untuk perilaku adalah untuk mendapatkan peranan sakit (sick role)
C. Tidak terdapat keuntungan eksternal untuk perilaku (seperti tujuan ekonomi, menghindari tanggung jawab hokum, atau memperbaiki kesejahteraanfisik seperti pada malingering) (2,5,9)

Penulisan berdasarkan pada jenis :
1. GB dengan tanda dan gejala psikologis yang menonjol; jika tanda dan gejala psikologis mendominasi gambaran klinis
2. GB dengan tanda dan gejala fisik yang menonjol; jika tanda dan gejala disik mendominasi gambaran klinis
3. GB dengan kombinasi tanda dan gejala psikologis dan fisik; Jika tanda dan gejala psikologis maupun fisik ditemukan tetapi tidak ada yang mendominasi gambaran klinis.(1-3,5,8)
Sedangkan berdasarkan PPDGJ III kriteria diagnosis untuk gangguan buatan ini :
 Dengan tidak adanya gangguan fisik atau mental, penyakit atau cacat yang pasti, individu berpura-pura mempunyai gejala sakit secara berulang-ulang dan konsisten.
 Untuk gejala fisik mungkin dapat meluas sampai membuat sendiri irisan atau luka untuk menciptakan perdarahan atau menyuntik diri dengan bahan beracun.
 Peniruan nyeri dan penekanan adanya perdarahan dapat begitu meyakinkan dan menetap sehingga menyebabkan diulanginya pemeriksaan dan operasi di beberapa klinik dan rumah sakit, meskipun hasilnya berulang-ulang negative.
 Motivasi untuk perilaku ini hampir selalu kabur dan dianggap fakstor internal, dan fungsi ini terbaik diinterpretasikan sebagai suatu gangguan perilaku sakit dan peran sakit (disorder of illness behavior and the sick role).
 Individu dengan pola perilaku demikian biasanya menunjukkan sejumlah tanda dari kelainan ynag berat lainnya dari kepribadian dan hubungan dengan lingkungan.
 Perlu dibedakan dengan “malingering”, didefinisikan sebagai kesengajaan atau berpura-pura membuat gejala atau disabilitas, baik fisik maupun psikologis, yang dimotivasikan oleh stress eksternal atau insentif (kode Z76.5 dari ICD-10).

1. Gangguan buatan dengan tanda dan gejala psikologis yang menonjol
Gejala buatan yang seringkali berupa depresi, halusinasi, gejala disosiatif dan konversi dan perilaku yang aneh. Pasien mungkin datang dengan depresi, memberikan alasan palsu adanya kematian teman dekat atau sanak saudara yang baru saja terjadi
Elemen dari riwayat penyakit yang dapat mengarahkan dukacita buatan adalah kematian akibat kekerasan atau kematian berdarah, kematian dibawah keadaan yang dramatik. Pasien lain mungkin datang dengan kehilangan daya ingat yang belum lama dan jauh atau dengan halusinasi auditorik maupun visual.
Gejala psikologik buatan adalah menyerupai fenomena pura-pura semu (pseudomalingering), yang dirasakan sebagai pemuasan akan kebutuhan mempertahankan citra diri yang utuh yang dapat dirusak dengan memberikan masalah psikologis yang diluar kemampuan seseorang untuk mengatasinya melalui usaha sadar. Pada kasus ini, penipuan adalah alat sementara untuk membantu ego.(5)
2. Gangguan buatan dengan tanda dan gejala fisik yang menonjol
Gangguan buatan dengan tanda dan gejala fisik yang menonjol telah diberikan berbagai macam label, yang terkenal adalah sindrom Munchausen. Gangguan ini juga disebut sebagai adiksi rumah sakit (hospital addiction), adiksi banyak pembedahan (polysurgery addiction) dan sindrom pasien professional. Ciri penting dari pasien dengan gangguan ini adalah kemampuan mereka untuk menampilkan gejala fisik dengan sangat baik sehingga mereka dapat dirawat dan tinggal di rumah sakit. Untuk mendukung riwayat penyakitnya, pasien mungkin menipu gejala yang mengarahkan pada suatu gangguan yang dapat melibatkan suatu sistem organ. Mereka terbiasa dengan diagnosis sebagian besar gangguan yang biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit dan dapat memberikan riwayat yang sangat baik yang dapat menipu klinisi yang paling berpengalaman sekalipun.
Presentasi klinis adalah bermacam-macam termasuk hematoma, hemoptisis, nyeri abdomen, mual, muntah, pening, dan kejang. Urin dikontaminasikan dengan darah atau feses,. Antikoagulan digunakan untuk mensimulasi gangguan perdarahan, insulin digunakan untuk menghasilkan hipoglikemia, dan sebagainya. Pasien tersebut seringkali memaksa pembedahan, mengaku adanya perlekatan akibat prosedur pembedahan sebelumnya. Keluhan nyeri, khususnya yang mensimulasi kolik ginjal,adalah sering ditemukan, pada pasien yang menginginkan narkotik
Pada kira-kira setengah kasus yang dilaporkan, pasien meminta pengobatan dengan medikasi tertentu biasanya analgesic. Jika didalam rumah sakit, mereka terus menuntut dan mempersulit. Saat tiap tes dikembalikan dengan hasil yang negative, mereka menuduh dokternya tidak kompeten, mengncam penuntutan, dan biasanya jadi menyerang. Beberapa tanda tampak segera setelah mereka yakin bahwa mereka dihadapkan dengan perilaku pura-puranya. Mereka selanjutnya pergi kerumah sakit lain dalam kota yang sama atau lain dan memulai lingkaran tersebut lagi.
Faktor predisposisi spesifik adalah gangguan fisik yang sebenarnya selama masa anak-anak yang menyebabkan terapi medis yang luas, suatu dendam terhadap profesi medis, pekerjaan sebagai paraprofessional medis, dan hubungan penting dengan dokter di masa lalu.(5)
3. Gangguan buatan dengan kombinasi tanda dan gejala psikologis dan fisik
Pada gangguan buatan tipe kombinasi, ditemukan baik tanda maupun gejala psikologis dan fisik. Jika kedua tipe tidak menonjol dalam presentasi klinis, diagnosis gangguan buatan dengan kombinasi tanda dan gejala psikologis dan fisik harus dibuat.(5)
4. Gangguan buatan yang tidak ditentukan
Beberapa pasien dengan tanda dan gejala buatan tidak memenuhi criteria DSM-IV untuk gangguan buatan spesifik dan harus diklasifikasikan menderita gangguan buatan yang tidak ditentukan. Contoh yang paling jelas dari diagnosis adalah gangguan buatan oleh orang yang dekat (factitious disorder by proxy) yang juga dimasukkan dalam appendiks DSM-IV. Dalam diagnosis tersebut seseorang secara sengaja menghasilkan tanda dan gejala fisik pada orang lain yang dibawah perawatan orang pertama. Tujuan satu-satunya yang tampak dari perilaku tersebut adalah bagi pengasuh supaya secara tidak langsung mendapatkan peranan sakit.(5,6,10)
Kasus gangguan buatan oleh orang yang dekat yang paling melibatkan seorang ibu yang menipu personal medis supaya percaya anaknya sakit. Penipuan tersebut mungkin berupa riwayat medis yang palsu, kontaminasi sampel laboratorium, mengganti catatan medis, atau menyebabkan cedera dan penyakit pada anak.(3)

V. DIAGNOSIS BANDING
Tiap gangguan dimana tanda dan gejala fisik adalah menonjol, harus dipertimbangkan dalam mendiagnosis banding, dan kemungkinan penyakit fisik yang sesungguhnya atau menyertai selalu ditelisuri.

a. Gangguan Somatoform
Pasien dengan gangguan ini biasanya tidak berbicara dengan teminologi klinis dan rutinitas rumah sakit. Hipokondriasis berbeda dengan gangguan buatan dimana pasien ini tidak secara disadari memulai produksi gejala dan hipokondriasis biasanya memiliki onset usia yang lebih tua. Seperti pada hal gangguan somatisasi, pasien dengan hipokondriasis biasanya tidak mau menjalani prosedur yang kemungkinan menyakitkan.(5,6)
b. Gangguan Kepribadian
Pasien ini seringkali diklasifikasikan memiliki gangguan kepribadian antisocial; tetapi orang antisosial biasanya tidak secara sukarela menerima prosedur invasive atau menjalani kehidupan yang ditandai oleh perawatan di rumah sakit yang berulang dengan jangka panjang.
Karena mencari perhatian dan kadang-kadang bakat untuk hal yang dramatik, pasien dengan gangguan buatan dapat diklasifikasikan sebagai gangguan kepribadian histrionik. Tetapi tidak semua pasien dengan gangguan buatan memiliki bakat dramatik, banyak dari mereka adalah menarik diri dan lemah lembut.(5)
c. Skizofrenia
Diagnosis skizofrenia seringkali didasarkan pada gaya hidup kacau dari pasien, tetapi pasien dengan gangguan buatan biasanya tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk skizofrenia kecuali mereka memiliki waham yang terpaku bahwa mereka adalah benar-benar sakit dan berkelakuan atas dasar keyakinan tersebut dengan meminta perawatan di rumah sakit.(5)
d. Malingering
Malingering atau pura-pura sakit. Gangguan buatan harus dibedakan dari berpura-pura. Orang yang berpura-pura memiliki suatu tujuan lingkungan yang jelas dan dapat dikenali dalam menghasilkan tanda dan gejalanya. Mereka mungkin meminta perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan kompensasi financial, menghindari polisi, menghindari pekerjaan, atau semata-mata mendapatkan tempat tidur dan tempat kosong untuk bermalam; tetapi mereka selalu memiliki akhir perilaku yang terlihat. Selain itu mereka biasanya dapat berhenti menghasilkan tanda dan gejanya jika tidak dianggap menguntungkan lagi atau jika resikonya terlalu tinggi dan pasien membahayakan hidup dan tubuhnya.(5,7)
e. Penyalahgunaan Zat
Walaupun pasein dengan gangguan buatan mungkin memiliki suatu riwayat penyulit penyalahguanaan zat, mereka seringkali tidak semata-mata dianggap sebagai penyalahgunaan obat tetapi memiliki diagnosis yang ada bersama-sama.(5)
f. Sindroma Ganser
Sindroma ganser, suatu keadaan kontroversial yang paling tipikal berhubungan dengan penghuni penjara, ditandai oleh pemakaian jawaban yang mendekati. Orang dengan sindroma ini menjawab pertanyaan sederhana dengan jawaban tidak tepat yang mengherankan. Sebagai contohnya saat ditanya tentang warna sebuah mobil biru, orang tersebut menjawab “merah”. Sindroma ganser mungkin merupakan suatu varian dari berpura-pura, dimana pasien menghindari hukuman atau tanggung jawab atas tindakannya.(5,7)

VI. PENATALAKSANAAN
Mengobati gangguan buatan ini tidak ada terapi psikiatrik khusus yang efektif. Pasien dengan gangguan mensimulasi penyakit berat, meminta dan mengajukan terapi yang tidak diperlukan, yang mana dalam waktu yang sama pasien tersebut menyangkal pada dirinya sendiri dan orang lain tentang penyakitnya yang benar. Jadi otomatis pasien menghindari terapi dengan jalan secara tiba-tiba meninggalkan rumah sakit atau tidak datang pada perjanjiaan follow-up.(5,6)
Dari penjelasan ini, disimpulkan bahwa terapi paling baik adalah dalam bentuk penatalaksanaan, bukan dengan penyembuhan. Satu hal yang paling penting diutamakan untuk keberhasilan penatalaksanaan adalah dengan pengenalan awal dokter terhadap gangguan tersebut.(3,5)
 Pengenalan awal dokterr terhadap gangguan buatan; selanjutnya dokter dapat mencegah pasien menjalani prosedur diagnostik yang menyakitkan dan membahayakan. Ini dapat terwujud dari hubungan yang baik antara dokter psikiatrik maupun staf medis dengan pasien.
 Reaksi pribadi dari dokter dan anggota staf medis merupakan hal yang penting juga dalam mengobati dan menegakkan hubungan kerja dengan pasien. Anggota staf harus menerima dengan jujur pernyataan dari pasien.
 Dokter tidak boleh merasa marah jika pasien menghina kecakapan diagnostiknya, dan yang paling harus dihindari permusuhan dengan pasien yang menyebabkan mereka lari dari rumah sakit. Hal ini bisa terjadi karena dokter merasa dibohongi dan ditipu.
 Penggunaan metode konfrontasi adalah kontroversial, akan tetapi pada suatu waktu dalam mengobati pasien harus dibuat menghadapi kenyataan.
Walaupun beberapa kasus psikoterapi individual telah dilaporkan dalam literature, tidak ada kesesuain pendapat tentang pendekatan yang terbaik. Pada umumnya, bekerja sama dengan dokter primer adalah lebih efektif dibandingkan bekerja dengan pasien sendirian.(5,6)

VII. PROGNOSIS
Prognosis pada sebagian besar kasus adalah buruk. Beberapa pasien biasanya menghabiskan waktu dipenjara, hal ini biasanya karena tindak kriminal ringan, seperti pencurian, penggelandangan, dan kelakuan yang terganggu. Pasien juga memiliki perawatan dirumah sakit psikiatrik yang intermiten.(3,5)
Walaupun tidak ada data yang bisa menguatkan hasil akhir dari pasien, beberapa diantaranya bisa terjadi meninggal akibat medikasi, instrumentasi atau pembedahan yang tidak diperlukan. Dalam hal ini pasien seringkali melakukan simulasi yang sangat pandai dan mengambil resiko, beberapa pasien mungkin meninggal tanpa dicurigai adanya gangguan.(5)







DAFTAR PUSTAKA

1. Anonima, Mental Health : Factitious Disorder, August 08th, 2006, available at http://www.webmd.com/content/article/60/67132.htm

2. Elwyn, Todd S., Factitious Disorders, April 13th, 2006, available at http://www.emedicine.com/cgi-bin/foxweb.exe

3. Anonima, An Overview of Factitious Disorders, July 10th, 2005, available at http://www.clevelandclinic.org/health/health-info/docs/&src=newsp

4. Anonima, Factitious Disorder, April 06th, 2000, available at http://en.wikipedia.org/wiki/factitious_disorders

5. Kaplan H, Sadock B, Grebb J., Gangguan Buatan dalam Sinopsis psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Jilid 1, edisi ke-7, New York : William and Wilkins, 1994

6. Anonima, Factitious Disorders – Munchausen Syndrome, July 19th, 2003, available at http://www.psychnet-uk.com/

7. Anonima, Factitious Disorders, August 08th, 2006, available at http://www.healthatoz.com/healthatoz/Atoz/default.html

8. Anonima, Factitious Disorders (Munchausen Syndrome), August 08th, 2006, available at http://andreiz.club.fr/index.html

9. Szoke, Andrei, Factitious Disorder with Psychological Signs and Symptoms, 1999, available at http://www.priory.co.uk/psycont.htm

10. Stevens, Vivian M., Somatoform and Other Remated Disorders – Factitious Disorders in Behavioral Science, Philadelphia : The Curtis Center Independence Square west-Mosby, 2004

ASPEK PSIKOSOSIAL DARI DEPRESI SEDANG DENGAN GEJALA PSIKOSOMATIK

href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAnchoel%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml">

DEPRESI

Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda pada masing-masing individu. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM)-IV merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk menegakkan diagnosis depresi. Jika manifestasi depresi muncul dalam bentuk keluhan yang ber-kaitan dengan mud (mood) (seperti murung, sedih, rasa putus asa), diagnosis depresi dapat dengan mudah ditegakkan; tetapi jika gejala depresi muncul dalam keluhan psikomotor atau somatik seperti malas bekerja, lamban, lesu, nyeri ulu hati, sakit kepala terus-menerus, adanya depresi yang melatar-belakanginya sering tidak terdiagnosis. Ada masalah-masalah lain yang juga dapat menutupi diagnosis depresi misalnya pasien menyalahgunakan alkohol atau obat untuk mengatasi depresi, atau muncul dalam bentuk gangguan perilaku.

Gejala utama (pada derajat ringan, sedang dan berat) :

- Afek depresif

- Kehilangan minat dan kegembiraan, dan

- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.

Gejala Lainnya :

a. Konsentrasi dan perhatian berkurang

b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

c. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis

e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

f. Tidur terganggu

g. Nafsu makan berkurang

Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya dua minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.

Berdasarkan PPDGJ III, Pedoman Diagnostik Episode Depresif Ringan terdiri dari :
F32.0 Episode Depresif Ringan

- Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi

- Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya

- Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya

- Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu

- Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya

F32.1 Episode Depresif Sedang

- Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada episode depresif ringan

- Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya

- Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu

- Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga.

F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik

- Semua 3 gejala utama depresi harus ada

- Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat.

- Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkibn tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresif berat masih dapat dibenarkan.

- Episode depresif biasanya haarus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu

- Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga kecuali paada taraf yang sangat terbatas.

F32.3 Episode Depresif Berat dengan gejala Psikotik

- Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F.32 tersebut

- Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu.

F 32.8 Episode Depresif Lainnya

F 32.9 Episode Depresif YTT

PSIKOSOMATIK

Psikosomatik adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dan sosial. Gangguan psikosomatis adalah faktor psikologis yang merugikan, mempengaruhi kondisi medis pasien. Faktor psikologis tersebut dapat berupa gangguan mental, gejala psikologis, sifat kepribadian atau gaya mengatasi masalah, dan prilaku kesehatan yang maladaptif. Seseorang jika emosinya menumpuk dan memuncak maka hal itu dapat menyebabkan terjadinya goncangan dan kekacauan dalam dirinya. Jika faktor-faktor yang menyebabkan memuncaknya emosi itu secara berkepanjangan tidak dapat dijauhkan, maka ia dipaksa untuk selalu berjuang menekan perasaannya. Perasaaan tertekan, cemas, kesepian dan kebosanan yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya. Jadi Psikosomatik dapat disebut sebagai penyakit gabungan, fisik dan mental, yang dalam bahasa Arab disebut nafsajasadiyyah atau nafsabiolojiyyah. Yang sakit sebenarnya jiwanya, tetapi menjelma dalam bentuk sakit fisik.

Sindroma psikosomatik mempunyai gejala fisik berupa;

1. Penyakit salah satu sistem tubuh yang paling rentan bagi pasien, misalnya; asma (sistem respiratorius), neurodermatitis (sistem integumentum), ulkus peptikum (sistem digestivus), artritis rematik (sistem muskuloskeletal), PJK dan aritmia (sistem kardiovaskuler), dan migrain (sistem neurologik).

Pada sindroma psikosomatik ini dijumpai pula

2. Patologi organ (+) dan

3. Mekanisme patofisiologik (+).

Gejala psikis berupa

1. Munculnya gejala sistem tersebut berkaitan dengan waktu dan stimulus lingkungan yang secara psikologis bermakna bagi pasien

2. Faktor psikologis tersebut bukan merupakan gangguan mental yang spesifik.

Pada umumnya penderita dengan gangguan psikosomatis dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:4

  1. terdapat keluhan tentang fisik, akan tetapi tidak terdapat penyakit fisik dan kelainan organik yang dapat menyebabkan keluhan tersebut
  2. terdapat kelainan organik tetapi yang primer yang menyebabkannya adalah faktor psikologis
  3. terdapat kelainan organik tetapi terdapat juga gejala lain yang timbul bukan sebab penyakit organik itu, akan tetapi karena faktor psikologis. Faktor psikologis ini mungkin timbul akibat penyakit organik seperti kecemasan.

—-Lewis memberikan beberapa kriteria khusus untuk diagnosis gangguan psikosomatis yaitu:

  1. Gejala-gejala yang didapat mempunyai permulaan, akibat, manifestasi dan jalannya yang sangat mencurigakan akan adanya gangguan psikosomatik.
  2. Dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium tidak didapatkan penyakit organik yang dapat menyebabkan gejala-gejala.
  3. Adanya suatu stres atau konflik yang menyulitkan penderita.
  4. Reaksi penderita terhadap stres ini banyak hubungannya dengan gejala-gejala yang dikeluhkannya, yaitu bahwa gejala-gejala itu secara psikosomatik merupakan manifestasi fisik dari konflik atau penyelesaian masalah yang tidak memuaskan.
  5. Terjadinya stres harus memiliki korelasi antara waktu dan timbulnya keluhan, bertambah beratnya penyakit yang ada.

Untuk diagnosis perlu dievaluasi faktor-faktor sebagai berikut:

Komponen organik versus komponen nonorganik.

Komponen fungsional nonpsikogenik versus psikogenik.

Dasar kestabilan emosi (kepribadian premorbid dan predisposisi).

Stres yang menimbulkan gejala-gejala.

Beratnya gangguan fisik atau psikologik.

KONSEP DASAR PSIKOSOSIAL

1. Pengertian Kebutuhan Psikososial:

Manusia adalah makhluk biopsikososial yang unik dan menerapkan system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selaulu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, keadaan ini disebut dengan sehat. Sedangkan seseorang dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya. Sebagai makhluk social, untuk mencapai kepuasana dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal positif .

2. Status Emosi

Setiap individu mempunyai kebutuhan emosi dasar, termasuk kebutuhan akan cinta, kepercayaan, otonomi, identitas, harga diri, penghargaan dan rasa aman. Schultz (1966) Merangkum kebutuhan tersebut sebagai kebutuhan interpersonal untuk inklusi, control dan afeksi. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, akibatnya dapt berupa perasaan atau prilaku yang tidak diharapkan, seperti ansietas, kemarahan, kesepian dan rasa tidak pasti.

Kebutuhan interpersonal akan inklusi, control dan afeksi kadang saling tumpang tindih dan berkesinambungan.

Kebutuhan akan inklusi :

Merupakan kebutuhan untuk menetapkan dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan orang. Dalam lingkungan perawatan kesehatan, kebutuhan inklusi dapat dipenuhi dengan memberi informasi dan menjawab semua pertanyaan, menjelaskan tanggung jawab perawat dalm memberi perawatan dan mengenali kebutuhan serta kesukaan pasien.

Kebutuhan akan kontrol :

Berhubungan dengan kebutuhan untuk menentukan dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan orang lain dengan memperhatikan kekuasaan, pembuatan keputusan dan otoritas.

Contoh: Saat orang melepaskan tanggung jawab pribadinya dan menjadi pasien yang sangat terikat dan tidak berdaya yang selalu meminta petunjuk dari semua orang mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dibalik prilaku itu tersembunyi ansietas, bermusuhan dan kurang percaya terhadap orang lain atau diri sendiri. Intervensi keperawatan yang membantu pasien menerima tanggung jawab untum membuat keputusan mengenai perawatan pasien yang menunjang pemulihan control.

Kebutuhan Afeksi :

Seseorang membangun hubungan saling memberi dan saling menerima berdasarkan saling menyukai. Afeksi diungkapkan dengan kata-kata cinta, suka, akrab secara emosional, pribadi, sahabat, dan intimasi.

RENTANG RESPONS EMOSIONAL

Respons Adaptif Respons Maladaptif

Kepekaan emosional

Reaksi berduka takterkomplikasi

Supresi emosi

Penundaan reaksi berduka

Depresi/mania

Pengertian:

a. Kepekaan emosiaonal

adalah Respons emosional termasuk dipengaruhi oleh dan berperan aktif dalam dunia internal dan eksternal sesorang. Tersirat bahwa orang tersebut terbuka dan sadar akan perasaannya sendiri.

b. Reaksi berduka takterkomplikasi

Terjadi sebagai respons terhadap kehilangan dan tersirat bahwa seseorang sedang menghadapi suatu kehilngan yang nyata serta terbenam dalam proses berdukanya.

c. Supresi emosi

Mungkin tampak sebagai penyangkalan (denial) terhadap perasaan sendiri, pelepasan dari keterikatandengan emosi atau penalaran terhadap semua aspek dari dunia afektif seseorang.

d. Penundaan reaksi berkabung

Ketidakadaan yang persisten respons emosional terhadap kehilangan . ini dapat terjadi pada awal proses berkabung dan menjadi nyata pada kemunduran proses, mulai terjadi atau keduanya. Penundaan dan penolakan proses berduka kadang terjadi bertahun-tahun.

e. Depresi atau melankolia

Suatu kesedihan atau perasaan berduka berkepanjangan. Dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai fenomena, tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi, penyakit atau klinik.

f. Mania

Ditandai dengan elevasi alam perasaan berkepanjangan dan mudah tersinggung.

3. Konsep Diri

KD adalah Semua perasaan, kepercayaan dan nilai yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.

Berkembang secara bertahap, saat bayi mulai mengenal dan membedakan diri dengan orang lain.

Pembentukan KD dipengaruhi asuhan orang tua dan lingkungan.

Tercapai aktualisasi diri ( Hirarkhi maslow) → Perlu KD yang sehat.

Komponen KD :

1. Body Image ( Citra tubuh)

Sikap terhadap tubuh secara sadar dan tidak sadar

Mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, dan fungsi penampilan tubuh dulu dan sekarang

2. Ideal diri

Persepsi individu → bagaimana harus berprilaku sesuai standar prilaku.

Akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi.

3. Harga diri (HD)

Penilaian terhadap hasil yang dicapai dengan analisis → sejauh mana prilaku memenuhi ideal diri.

Sukses → HD tinggi, gagal → HD rendah

HD diperolah dari diri sendiri dan orang lain.

4. Peran diri (PD).

Pola sikap, prilaku nilai yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.

5. Identitas Diri

Kesadaran akan dirinya sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesis dari semua aspek dari KD sebagai suatu kesatuan yang utuh.

Faktor yang mempengaruhi KD :

1. Tingkat perkembangan dan kematangan

Dukungan mental, perlakuan dan pertumbuhan anak

2. Budaya

Usia anak → nilai diadopsi dari orang tua.

3. Sumber eksternal dan internal

Eksternal → Dukungan masyarakat, ekonomi yang bagus.

Internal → humoris, agamis, berpendidikan

4. Pengalaman sukses dan gagal → meningkatkan/menurunkan KD.

5. Stresor

Stresor (perkawinan, pekerjaan baru, ujian, ketakutan, PHK, dll), jika koping tidak efektif → depresi, menarik diri dan kecemasan.

6. Usia, keadaan sakit dan trauma → mempengaruhi persepsi diri

Kriteria Kepribadian sehat :

1. Citra tubuh yang positif dan kuat

2. ideal dan realitas

3. Konsep diri yang positif

4. Harga diri yang tinggi

5. Kepuasan penampilan peran

6. Identitas jelas.

ASPEK PSIKOSOSIAL PADA PENDERITA DEPRESI

1). Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan : suatu pengamatan klinik menyatakan bahwa peristiwa atau kejadian dalam kehidupan yang penuh ketegangan sering mendahului episode gangguan mood. Satu teori menjelaskan bahwa stress yang menyertai episode pertama akan menyebabkan perubahan fungsional neurotransmitter dan sistem pemberi tanda intra neuronal yang akhirnya perubahan tersebut menyebabkan seseorang mempunyai resiko yang tinggi untuk menderita gangguan mood selanjutnya.

2). Faktor kepribadian Premorbid : Tidak ada satu kepribadian atau bentuk kepribadian yang khusus sebagai predisposisi terhadap depresi. Semua orang dengan ciri kepribadian manapun dapat mengalami depresi, walaupun tipetipe kepribadian seperti oral dependen, obsesi kompulsif, histerik mempunyai risiko yang besar mengalami depresi dibandingkan dengan lainnya.

3). Faktor Psikoanalitik dan Psikodinamik : Freud (1917) menyatakan suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankoli. Ia menyatakan bahwa kemarahan pasien depresi diarahkan kepada diri sendiri karena mengidentifikasikan terhadap objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi merupakan suatu cara ego untuk melepaskan diri terhadap objek yang hilang. E.Bibring menekankan pada kehilangan harga diri . Bibring mengatakan depresi sebagai suatu efek yang dapat melakukan sesuatu terhadap agresi yang diarahkan kedalam dirinya.

Apabila pasien depresi menyadari bahwa mereka tidak hidup sesuai dengan yang dicita-citakannya, akan mengakibatkan mereka putus asa.

4). Ketidakberdayaan yang dipelajari : Didalam percobaan, dimana binatang secara berulang-ulang dihadapkan dengan kejutan listrik yang tidak dapat dihindarinya, binatang tersebut akhirnya menyerah dan tidak mencoba sama sekali untuk menghindari kejutan selanjutnya. Mereka belajar bahwa mereka tidak berdaya. Pada penderita depresi, kita dapat menemukan hal yang sama dari keadaan ketidak berdayaan tersebut.

5). Teori Kognitif : Beck menunjukkan perhatian gangguan kognitif pada depresi Dia mengidentifikasikan 3 pola kognitif utama pada depresi yang disebut sebagai triad kognitif, yaitu:

a). Pandangan negatif terhadap masa depan.

b). Pandangan negatif terhadap diri sendiri, individu menganggap dirinya tak mampu, bodoh, pemalas, tidak berharga.

c). Pandangan negatif terhadap pengalaman hidup. Meyer berpendapat bahwa depresi adalah reaksi seseorang terhadap pengalaman hidup yang menyedihkan misalnya, kehilangan orang yang dicintai, kemunduran finansial, kehilangan pekerjaan, atau penyakit fisik yang serius. Meyer mengatakan pada depresi, harus dicari hubungan antara pengalaman hidup pasien dengan peristiwa yang menjadi penyebab