Sabtu, 29 Mei 2010

Asma Bronkhial

ASMA BRONKIAL


I.Pendahuluan

Pedoman Nasional Asma Anak menggunakan definisi yang praktis dalam bentuk definisi operasional yaitu wheezing dan/atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut: (1)timbul secara episodik dan/atau kronik, (2)cenderung pada malam/ dini hari (nokturnal), (3)musiman, (4)adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik, dan (5)bersifat reversible baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya (6)riwayat asma atau atopi lain pada pasien/ keluarganya, sedangkan sebab-sebab lain disingkirkan
Asma merupakan penyakit dengan karakteristik meningkatnya reaksi trakea dan bronkus oleh berbagai macam pencetus disertai dengan timbulnya penyempitan luas saluran napas bagian bawah yang dapat berubah-ubah derajatnya secara spontan dengan pengobatan.(1)
Serangan asma dapat berupa sesak napas ekspiratoar yang paroksismal, berulang-ulang dengan mengi (‘wheezing’) dan batuk yang disebabkan oleh konstriksi atau spasme otot bronkus, inflamasi mukosa bronkus dan produksi lendir kental yang berlebihan.
Asma merupakan penyakit familier, diturunkan secara poligenik dan multifaktorial. Telah ditemukan hubungan antara asma dan lokus histokompatibilitas (HLA) dan tanda genetik pada molekul immunoglobulin G(IgG).(2)

II. Insiden

Kira-kira 2-20% populasi anak dilaporkan pernah menderita asma. Belum ada penyelidikan menyeluruh mengenai angka kejadian asma pada anak di Indonesia, namun diperkirakan berkisar antara 5-10%. Dilaporkan dibeberapa negara angka kejadian asma meningkat, misalnya di Jepang.
Siapa saja yang dapat mengidap asma? tidak ada petanda yang jelas untuk meramal apakah seseorang akan mengidap asma atau tidak, tetapi ada beberapa penelitian yang menunjukkan beberapa faktor yang berkaitan dengan mula terjadinya asma pada anak antara lain :
1. Bayi atau anak kecil yang mengeluarkan suara seperti siulan bila mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas yang disebabkan oleh virus.
2. Alergi, hubungan antara asma dan alergi sangat erat. Jika anak anda mempunyai alergi tertentu, waspadalah terhadap kemungkinan anak anda mengidap asma.
3. Riwayat keluarga terhadap asma dan/ atau alergi.
4. Paparan terhadap asap rokok dan alergen saat dalam kandungan.(3,4)

III.Etiologi

1. Penyakit kompleks menyangkut berbagai faktor, antara lain : saraf otonom, imunologik, infeksi, endokrin, dan psikologik.
2. Saraf otonom
- Kelainan saraf simpatik
Gangguan pada reseptor adrenergik adenil sinklase
- Kelainan saraf parasimpatik
Aktifitas sistem kolinergik meningkat menimbulkan bronkonstriksi
- Non Adrenergik Non Kolinergik (NANC)
VIP (Vasoactive Intestinal Peptide) = bronkodilator
3. Faktor Imunologik
Atopik --- Genetik
4. Faktor Infeksi
- Infeksi virus merupakan faktor penting dalam patogenesis asma
- Infeksi --- timbulkan lesi mukosa --- permudah penetrasi molekul besar
melewati bronkus --- respon terpapar
- Infeksi virus --- menekan fungsi sel T supresor --- IgE >>
- Infeksi virus --- memblokade sistem saraf simpatis
5. Faktor Endokrin
- Eksaserbasi asma ada hubungannya dengan : haid, terutama premenstruasi (pra
haid) atau asma mungkin mempunyai kaitan pada perempuan menstruasi
- Asma membaik pada beberapa anak pada usia pubertas
6. Faktor psikologis
Faktor emosi dapat mencetuskan serangan asma pada anak dan dewasa.(2)
IV.Patologi

Asma ditandai 3 kelainan utama pada bronkus yaitu bronkokonstriksi otot bronkus, inflamasi mukosa dan bertambahnya sekret yang berada jalan napas. Pada stadium permulaan terlihat mukosa jalan napas pucat, terdapat edema dan sekresi lendir bertambah. Lumen bronkus dan bronkiolus menyempit akibat spasme. Terlihat kongesti pembuluh darah, infiltrasi sel eosinofil bahkan juga dalam sekret didalam lumen saluran napas. Bila serangan terjadi sering dan lama atau dalam stadium lanjut, akan terlihat deskuamasi epitel, penebalan membran hialin basal, hyperplasia serat elastin, hiperplasia dan hipertropi otot bronkus dan jumlah sel goblet bertambah. Kadang-kadang pada asma menahun atau pada serangan yang berat terdapat penyumbatan bronkus oleh mukus yang kental yang mengandung eosinofil.
Tergantung pada beratnya penyakit ini mungkin menimbulkan gejala atau hanya menimbulkan perasaan iritasi pada trakea, pada kasus lain, tidak dapat diatasi. Turbulensi arus udara dan getaran ke bronkus mengakibatkan suara mengi yang terdengar jelas pada saat serangan asma, namun tanda fisik ini juga menyolok pada sumbatan saluran napas lain.
Pada asma tanpa komplikasi, batuk hanya menyolok sewaktu serangan mereda, batuk membantu mengeluarkan sekret yang terkumpul. Diantara serangan asma yang khas penderita bebas dari mengi dan gejala, walaupun reaktivitas bronkus meningkat dan kelainan pada ventilasi tetap dapat diperlihatkan dengan tehnik khusus. Namun pada keadaan asma kronik, masa tanpa serangan mungkin dapat menghilang, sehingga dapat mengakibatkan keadaan asma yang terus-menerus sering disertai infeksi sekunder.
Penderita-penderita asma, baik dengan mekanisme alergi maupun tanpa alergi memiliki kelabilan bronkus yang abnormal sehingga mempermudah penyempitan saluran napas. Penyempitan ini disebabkan oleh banyak faktor yang pada orang normal tidak mempunyai efek..Secara fungsional, saluran napas penderita asma bertindak seakan-akan pernapasan adrenergik-betanya tidak kompeten (yang membantu pertahanan saluran napas agar tetap paten), dan terdapat banyak bukti yang memberi kesan bahwa paling tidak secara fungsional terdapat hambatan sebagian reseptor adrenergik-beta pada asma yang khas ini. Tanpa tonus bronkodilator yang memadai, pengaruh bronkonstriktor, yang secara normal diketahui diperantarai saraf parasimpatik (kolinergik) dan adrenergik- alfa, cenderung menonjol.(2,5)

V. Manifestasi Klinik

* Anamnesis
- Ada riwayat dermatitis atopik atau rhinitis alergik
- Riwayat keluarga dengan penyakit atopik (asma, rhinitis alergik)
- Riwayat batuk berulang, dapat disertai sesak napas dan wheezing
- Serangan timbul setelah ISPA, setelah latihan, setelah terpapar dengan bahan iritan,
udara dingin, alergen, asap rokok, atau bahan luar sederhana : aspirin atau sulfa
- Riwayat penggunaan obat sebelumnya
* Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi :batuk, takipneu, napas cuping hidung, toraks cembung --- barel chest (kro
nik, club of the finger (jari tabuh) --- kronik
- Perkusi : hipersonor
- Auskultasi : bunyi pernapasan melemah, bronkhial, ronchi basah kasar dan wheezing
* Pemeriksaan Laboratorium
- Eosinofil (darah tepi, sekret hidung dan sputum)
- Ig E darah
- Uji Kulit --- untuk tentukan alergen tertentu
- Uji profokasi bronkus --- hidden asthma
- Uji fungsi paru
• Bertujuan : tentukan diagnosis, berat ringannya penyakit, respon terhadap pengobatan, pemantauan dirumah (peak flow meter)
• Pemeriksaan paling sederhana : Peak flow meter --- flow rate
• Lebih kompleks : Spirometer --- FEV 1,0 (Forced Expiratory Volume In One Second) dan FVC (Forced Vital Capasity) dll
- Analisis golongan darah (Astrup ) :pH <7, pO2 menurun, pCO2 meningkat * Pemeriksaan Foto thoraks - Tidak semua penderita - Menyingkirkan diagnosa penyakit lain, mencari komplikasi seperti pneumonia atele – taksis - Kelainan : Corak paru bertambah, hiperinflasi, ateletaksis pada 6% anak - Foto ulang tidak dianjurkan selama eksaserbasi jika tidak ada indikasi kecuali demam bertambah, curiga terjadi pneumotoraks, takipneu >60 x/ menit, takikardi
160x/ menit, ada wheezing/ ronchi local atau penurunan bunyi pernapasan
Diagnosis berdasarkan atas : anamnesis, pemeriksaan fisis dan laboratorium.(2,6,7)

VI. Diagnosis Banding

Mengi dan dispnue ekspirator dapat terjadi pada bermacam-macam keadaan yang menyebabkan obstruksi pada saluran napas.
1. Pada bayi adanya korpus alienum di saluran napas dan esophagus atau kelenjar timus yang menekan trakea
2. Penyakit paru kronik yang berhubungan dengan bronkiektasis atau fibrosis kistik.
3. Bronkiolitis akut, biasanya mengenai anak di bawah umur 2 tahun dan terbanyak di bawah umur 6 bulan dan jarang berulang.
4. Bronkhitis.
Bronkhitis merupakan akibat beberapa keadaan lain saluran pernapasan atas dan bawah, dan trakea biasanya terlibat.
Bronkitis asmatis adalah bentuk asma yang sering terancukan dengan bronkhitis akut. Pada berbagai infeksi saluran pernapasan atas, beberapa anak menderita spasme bronkus dan eksudasi yang serupa dengan tanda-tanda pada anak lebih besar yang menderita asma.
Bronkhitis akut biasanya didahului oleh infeksi pernapasan atas. Infeksi bakteri sekunder dengan Streptococcus pneumoniae, Moraxella catarrhalis, atau H. influenzae dapat terjadi. Khasnya, anak datang dengan batuk yang sering, kering, pendek, tidak produktif dan timbulnya relative bertahap, mulai 3-4 hari sesudah munculnya rhinitis. Ketidakenakan substernal bawah atau nyeri terbakar dada depan sering ada dan dapat diperjelek oleh batuk.Dalam beberapa hari batuk dapat menjadi produktif, dan sputum berubah dari jernih ke purulen. Biasanya dalam 5- 10 hari, mukus encer, dan menghilang secara bertahap.
5. Tuberkulosis kelenjar limfe didaerah trakeobronkhial
6. Asma kardial
7. Kelainan trakea dan bronkus, misalnya trakeabronkomalasi dan stenosis bronkus.(5,6)

VII. Penatalaksanaan

o Oral
Salbutamol tab 2 mg atau 4 mg
- Anak 2-6 thn 3 x 1 mg
- Anak 6-12 thn 3 x 2 mg
o Per Inhalasi
- Inhaler 3x semprotan
- Selang 2 menit
- Nebulizer 0,25 mg fentolin dengan aquades 3cc, 3 menit 3- 4x/ hari
Protokol Penanganan Status Asmatikus
 Beri Adrenalin 0,01 mg/ kgBB/ subkutan
 Dapat diulang 3x tergantung keadaan penderita dengan interval 20 menit sekali pemberian
 Bila dengan tindakan diatas membaik, dilanjutkan dengan pemberian 2 antagonis seperti salbutamol 0,1 mg/kgBB/ x
 Bila tindakan diatas tidak berhasil maka :
- Bolus aminofilin 5 mg/ kgBB dalam larutan NaCl 0,9% 50 ml dalam 20 menit, setelah itu diberikan maintenance aminofilin 15-20 mg/kgBB/ 24 jam dalam dextrose 5% + NaBic 1,5% = 4:1
 Bila dengan terapi diatas kurang berhasil, pertimbangkan pemberian kortikosteroid
 Setelah keadaan membaik, dilanjutkan dengan pemberian 2 antagonis per oral.
Sementara itu dr. Hardianto dari Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia mengatakan penanganan asma di unit gawat darurat dan di rumah sakit cukup baik. Namun yang masih kurang adalah pengendalian asma. Data dari RS Persahabatan menunjukkan bahwa ada sekitar 10.000 penderita asma yang berobat disana dan 5.000 penderita yang datang ke rumah sakit tersebut sudah dalam keadaan akut.
Penatalaksanaan asma menurut Global Initiavie for Asthma (GINA) ada enam langkah yakni pendidikan pada penderita dan keluarganya, menentukan klasifikasi asma, menghindari faktor pencetus, memberikan pengobatan yang optimal, menatalaksanakan eksaserbasi akut dan melakukan kontrol secara berkala.(2,6)

VIII. Prognosis
Beberapa studi kohort menemukan bahwa banyak anak bayi dengan wheezing tidak berlanjut menjadi asma pada masa anak dan remajanya. Proporsi kelompok tersebut berkisar antara 45 hingga 85%, tergantung besarnya sample studi, tipe studi kohort, dan lamanya pemantauan.Adanya asma pada orang tua dan dermatitis atopik pada anak dengan wheezing merupakan salah satu indikator penting untuk terjadinya asma dikemudian hari. Apabila terdapat kedua hal tersebut maka kemungkinan menjadi asma lebih besar atau terdapat salah satu di atas disertai dengan 2 atau 3 keadaan berikut yaitu eosinofilia, rhinitis alergika, dan wheezing yang menetap pada keadaan bukan flu.(2,8)

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.klinikku.com/
2. Nelson, Asma, Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15 vol 1, EGC, Jakarta, 2000
3. http://solution21st.com/index.htm
4. http://www.umm.edu/imagepages/19321.htm
5. http://kickme.to/iLLUSiON/
6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK-UI, Asma, Pulmonologi, Ilmu Kesehatan Anak FK-UI, Cetakan ke-4, Infomedika, Jakarta, 1985
7. http://www.halalguide.info/mumtaaz/
8. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0704/22/cakrawala/index.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar